Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bahlil: Kontrak Migas dengan Rusia Lebih dari Setahun

Bahlil: Kontrak Migas dengan Rusia Lebih dari Setahun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kerja sama pengadaan energi antara Indonesia dan Rusia, baik untuk minyak mentah (crude oil) maupun LPG, akan dilakukan dalam skema kontrak jangka panjang.

Hal tersebut ditegaskan Bahlil, saat menjelaskan komitmen pemerintah menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya, kerja sama ini bukan sekadar pembelian spot (jangka pendek), melainkan hubungan dagang yang berkelanjutan.

"Jangka panjang," ujar Bahlil saat dikonfirmasi mengenai durasi kontrak kerja sama tersebut di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Saat ditanya lebih lanjut mengenai rincian durasi kontraknya, Bahlil tidak menyebutkan angka tahun secara spesifik, namun ia memberikan batasan berdasarkan definisi ekonomi umum.

"Kalau jangka panjang dalam teori ekonomi matematika berapa? Lebih dari satu tahun dong? Ya sudah," tambahnya.

Meski kontraknya bersifat jangka panjang, Bahlil memberikan catatan mengenai tahapannya.

Untuk minyak mentah (crude oil), pengirimannya ditargetkan bisa dimulai pada Bulan April ini.

Sedangkan untuk LPG, saat ini masih dalam proses penyelesaian kesepakatan akhir.

"LPG masih dalam finalisasi."

"(Targetnya) lebih cepat lebih baik," ungkap Bahlil.

Langkah menjalin kontrak jangka panjang dengan Rusia ini dipicu pula oleh proyeksi lonjakan kebutuhan LPG nasional.

Bahlil menyebutkan, konsumsi LPG Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta ton per tahun pada periode 2026-2027. 

"Kebutuhan kita besar, termasuk tambahan 1,5 juta ton per tahun untuk industri Lotte."

"Jadi kita harus mencari pasar-pasar baru, dan Rusia adalah salah satunya," jelasnya.

Tetap Gandeng Amerika Serikat

Bahlil juga mengklarifikasi masuknya Rusia dalam daftar pemasok jangka panjang, tidak akan menggeser posisi mitra lainnya.

Ia menyebutkan, impor LPG dari Amerika Serikat justru diprediksi akan meningkat seiring bertambahnya konsumsi nasional.

"LPG Amerika malah nambah. Konsumsi kita kan nambah."

Baca Juga: Bahlil Sebut Impor Minyak Mentah dari Rusia Kemungkinan Masuk Bulan Ini

"Jadi ini soal diversifikasi."

"Kita tidak bisa mengharapkan hanya satu negara dalam posisi geopolitik yang tidak menentu ini," tutur Bahlil. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus

Advertisement