Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengiriman Bahan Baku Molor 50 Hari Buat Harga Plastik Naik

Pengiriman Bahan Baku Molor 50 Hari Buat Harga Plastik Naik Kredit Foto: Kemenperin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Perindustrian menyatakan gejolak di kawasan Selat Hormuz mulai menekan rantai pasok bahan baku petrokimia nasional. Dampaknya, waktu pengiriman bahan baku yang sebelumnya rata-rata 15 hari kini dapat molor hingga 50 hari, disertai potensi penyesuaian harga produk plastik di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah terus memantau dampak dinamika geopolitik global terhadap industri nasional, khususnya subsektor plastik dan petrokimia.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut dia, keterlambatan logistik dipicu kenaikan biaya pengiriman, freight pelabuhan, pengenaan surcharge premium, serta terganggunya jalur distribusi internasional. Kondisi itu dinilai memicu distorsi struktur harga produk plastik domestik.

Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik guna membahas langkah mitigasi bersama.

Dari hasil pertemuan tersebut, Agus menyebut industri memberikan sinyal positif terkait ketersediaan stok bahan baku dan plastik di pasar domestik.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat,” katanya.

Selain menjaga pasokan, pelaku industri juga disebut berkomitmen mempertahankan suplai bagi industri kecil agar produk mereka tetap kompetitif.

Di sisi lain, pemerintah menilai gangguan global ini menjadi momentum mempercepat penguatan industri petrokimia nasional agar tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku.

“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujar Agus.

Baca Juga: Gejolak Selat Hormuz, Menperin Pastikan Stok Plastik Nasional Aman

Baca Juga: Harga Plastik Melejit, Alarm Ketergantungan Impor Kian Nyata

Baca Juga: Konflik Geopolitik Tekan Pasokan Plastik, Indonesia Siapkan Alternatif Berbasis Potensi Lokal

Dalam pembahasan dengan industri, muncul pula opsi diversifikasi bahan baku substitusi nafta dari sumber domestik seperti Crude Palm Oil. Meski secara keekonomian masih perlu dihitung, opsi tersebut dinilai layak dikaji untuk jangka panjang.

Agus menambahkan, persaingan memperoleh bahan baku petrokimia antarnegara diperkirakan semakin ketat di tengah ketidakpastian geopolitik global. Karena itu, pemerintah akan terus menjaga ketahanan sektor manufaktur dan akses bahan baku yang kompetitif bagi industri nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement