Dukung Pembiayaan Program Prioritas Pemerintah, POJK RBB Perkuat Pengawasan Kredit
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Secara makro, program pemerintah dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan kredit investasi, terutama di sektor pertanian dan konstruksi.
Namun demikian, risiko bagi perbankan tetap perlu diwaspadai, khususnya terkait kualitas aset dan potensi peningkatan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).
Risiko terbesar saat ini dinilai berada pada segmen UMKM dan kredit konsumsi. Tercatat, kredit UMKM terkontraksi 0,30% pada Desember 2025 seiring meningkatnya kehati-hatian bank terhadap risiko di segmen mikro dan menengah.
Sementara itu, standar penyaluran kredit konsumsi dan UMKM juga masih relatif ketat. Data OJK menunjukkan rasio NPL gross per Februari 2026 berada di level 2,17%, dengan loan at risk sebesar 9,24%.
Kondisi ini mencerminkan industri perbankan yang masih sehat, meski tetap menghadapi tekanan.
Baca Juga: OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,37% per Februari 2026
Baca Juga: Risiko Global Naik, Perbankan Nasional Perketat Stress Test dan Likuiditas
“Karena itu, menurut saya risiko terbesar bukan pada programnya secara formal, melainkan pada faktor pelaksanaan,” ucapnya.
Josua mencontohkan, program pembangunan tiga juta rumah berpotensi menimbulkan risiko apabila menyasar rumah tangga dengan daya beli lemah atau proyek pengembang yang belum matang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement