Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Ada Kemerdekaan, China Tegaskan Reunifikasi Satu-satunya Jalan untuk Taiwan

Tak Ada Kemerdekaan, China Tegaskan Reunifikasi Satu-satunya Jalan untuk Taiwan Kredit Foto: Getty Images/An Rong Xu
Warta Ekonomi, Jakarta -

China menegaskan bahwa reunifikasi merupakan satu-satunya jalan ke depan bagi Taiwan. Beijing mengatakan bahwa langkah tersebut penting bagi kesejahteraan masyarakat dalam pulau tersebut.

Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, Zhang Han baru-baru ini menyoroti hasil survei yang menunjukkan mayoritas responden mendukung penguatan hubungan lintas kawasan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dari China dan Taiwan.

Baca Juga: China Sebut Konflik Iran-Amerika Serikat dalam Masa Kritis

"Taiwan adalah bagian dari China. Taiwan tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sebuah negara," kata Zhang.

Menurutnya, hasil survei tersebut menunjukkan aspirasi yang dimiliki oleh masyarakat dari Taiwan. Hal ini menurutnya tidak boleh ditentang pemimpin dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Lai Ching-te. Ia sebelumnya menyebut perdamaian tidak bisa dicapai melalui kompromi atas kedaulatan.

"Mereka adalah pihak yang merusak perdamaian dan meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan," ujarnya.

China menegaskan bahwa upaya kemerdekaan merupakan jalan buntu yang berpotensi menimbulkan dampak serius bagi stabilitas kawasan. Beijing juga mengajak masyarakat pulau tersebut untuk mendukung hubungan damai lintas kawasan.

Selat Taiwan tetap menjadi salah satu titik panas geopolitik di dunia. Taiwan dianggap sebagai bagian wilayah dari China. Sementara Taipei menolak klaim tersebut dan menegaskan masa depan pulau ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

Sebelumnya, Taiwan menggelar latihan keamanan dalam pulau yang dikuasainya di Laut China Selatan. Hal ini berpotensi menambah ketegangan yang terjadi dalam wilayah dari Asia Timur.

Menteri Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling baru-baru ini turun mengunjungi Pulau Taiping. Ia datang untuk memantau langsung latihan tersebut. Kunjungannya ini sendiri terbilang langka mengingat wilayah tersebut adalah salah satu wilayah sengketa di Laut China Selatan.

Latihan yang dilakukan mencakup berbagai skenario, termasuk operasi penyergapan kapal mencurigakan yang menolak merespons panggilan. Dalam simulasi tersebut, pasukan khusus penjaga pantai bersenjata menaiki kapal kargo untuk melakukan pemeriksaan.

"Anda telah memasuki perairan di bawah yurisdiksi negara kami. Harap bekerja sama dengan penyelidikan," ujar salah satu anggota tim dalam latihan yang dilakukan oleh Taiwan.

Otoritas Taiwan menyatakan latihan tersebut mencakup skenario bantuan kemanusiaan, evakuasi medis, dan penanganan pencemaran laut. Namun, latihan bersenjata menunjukkan kesiapan menghadapi potensi ancaman keamanan di kawasan.

Baca Juga: Lewat Pembangunan, Beijing Mau Perkuat Klaim Belasan Ribu Pulau Sengketa di Laut China Selatan

Kunjungan Kuan sendiri dalam tujuj tahun terakhir merupakan kunjungan pertama seorang menteri ke Pulau Taiping. Pulau tersebut berada di Kepulauan Spratly. Ia menjadi wilayah sengketa karena ikut diklaim oleh China, Vietnam dan Filipina.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: