Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak dan Dolar AS Bisa Paksa BI Naikkan Suku Bunga

Harga Minyak dan Dolar AS Bisa Paksa BI Naikkan Suku Bunga Kredit Foto: Unsplash/Micro Stock Hub
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dinamika global, terutama pergerakan harga minyak dan nilai tukar dolar Amerika Serikat, diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia pada 2026.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, mengatakan kedua faktor tersebut menjadi penentu utama terbukanya ruang pelonggaran maupun pengetatan kebijakan moneter.

“Jika pada kuartal terakhir tahun ini harga minyak turun ke US$80 per barel atau di bawahnya dan dolar sudah stabil atau sedikit melemah, maka BI dapat menemukan ruang untuk melonggarkan kebijakan,” ujarnya dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026, Kamis (23/4/2026).

Sebaliknya, ia mengingatkan potensi skenario pengetatan apabila tekanan eksternal semakin meningkat. Jika harga minyak bertahan tinggi mendekati US$100 per barel dan dolar AS terus menguat, BI dinilai akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Bisa saja muncul situasi ketika BI harus menaikkan suku bunga untuk menjaga rupiah tetap stabil. Jadi memang sulit diprediksi, tetapi semuanya bergantung pada dua hal, yakni harga minyak dan pergerakan dolar AS,” katanya.

Dalam kebijakan terbarunya, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Keputusan tersebut mencerminkan fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Namun, menurut Pranjul, penahanan suku bunga bukan satu-satunya instrumen pengetatan moneter yang dimiliki BI. Bank sentral masih memiliki ruang melalui pengelolaan likuiditas guna menopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Ia menilai pemerintah bersama BI perlu menjaga likuiditas tetap longgar. Target pertumbuhan uang inti sekitar 10%, yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal sekitar 8%, dinilai menjadi sinyal dukungan terhadap aktivitas ekonomi.

“BI sebelumnya menyampaikan target pertumbuhan uang inti sekitar 10%. Umumnya, pertumbuhan uang inti sejalan dengan pertumbuhan PDB nominal. Jika uang inti dijaga lebih tinggi dari pertumbuhan PDB nominal, artinya sistem keuangan akan tetap dibanjiri likuiditas lebih besar,” paparnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri