Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Tengah Perang Iran, Trump Buka Suara Terkait Alasan Pemecatan John Phelan

Di Tengah Perang Iran, Trump Buka Suara Terkait Alasan Pemecatan John Phelan Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat buka suara terkait dengan pemecatan sosok dari Elite Angkatan Laut Amerika Serikat, John Phelan. Pemecatan ini menjadi bagian dari perombakan besar dalam militer negara tersebut selama masa konflik dengan Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa sosok tersebut adalah sosok pekerja keras, namun mengakui adanya konflik dengan pejabat senior lainnya, terutama terkait kebijakan pembangunan kapal perang.

Baca Juga: Beijing Isyaratkan Kapal Induk Nuklir Baru, Perkuat Ambisi di Laut China Selatan

"Dia pekerja keras, tetapi memiliki beberapa konflik dengan orang lain, terutama soal pembangunan dan pembelian kapal baru," kata Trump.

"Harus bisa bekerja sama, apalagi di militer. Ada yang menyukainya, ada yang tidak, dan itu hal yang biasa," tambahnya.

Phelan dilaporkan dicopot antara lain karena dianggap terlalu lambat dalam menjalankan reformasi untuk mempercepat pembangunan kapal militer. Ia juga disebut mengalami ketegangan dengan pimpinan lainnya di Pentagon.

Pihak Pentagon tidak memberikan alasan resmi atas pemecatan tersebut, serta tidak menjelaskan apakah keputusan itu berasal dari Phelan sendiri atau pemerintah.

Phelan diketahui merupakan seorang miliarder yang dikenal dekat dengan Trump. Ia menjadi pejabat pertama yang ditunjuk pemerintah dan kemudian diberhentikan sejak sang presiden kembali menjabat tahun lalu.

Pemecatannya sendiri berlangsung ketika adanya perang dari Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya telah menembaki dua kapal bernama MSC Francesca dan Epaminondas. Kedunya berbendera Panama dan Liberia. Pihaknya menilai bahwa kedua kapal tersebut telah beroperasi tanpa izin serta memanipulasi sistem navigasi mereka. Tuduhan ini menjadi dasar tindakan penyitaan oleh Iran.

Epaminondas diketahui dilaporkan ditembaki sekitar 15 mil laut barat laut Oman. Kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat milik IRGC.

Ia sendiri membawa 21 awak yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina. Tidak ada laporan korban jiwa, namun kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.

MSC Francesca di sisi lain juga terkena tembakan sekitar delapan mil laut dari wilayah Iran. Namun kapal tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak dinyatakan selamat. Satu kapal lainnya juga ditembaki, tetapi berhasil melanjutkan pelayaran tanpa kerusakan.

Sementara Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya mencegat setidaknya tiga tanker berbendera dari Iran di Asia. Ia dilaporkan memaksa kapal-kapal tersebut mengalihkan jalurnya dan menjauh dari posisi mereka dekat wilayahdari India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Laporan menyebutkan bahwa salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker bernama Deep Sea. Kargo kapal tersebut dilaporkan sebagian bermuatan minyak mentah dan terakhir terdeteksi di lepas pantai dari Malaysia.

Kapal lainnya yang terkena blokade bernama Sevin. Ia juga turut bermuatan minyak mentan dan memiliki kapasitas maksimum 1 juta barel dan membawa muatan berisi hingga sekitar 65%.

Baca Juga: Ini Kata Trump Soal Opsi Penggunaan Bom Nuklir Amerika Serikat di Iran

Supertanker Dorena juga diketahui menjadi salah satu yang terkena dampak blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ia membawa penuh sekitar 2 juta barel minyak mentah dan kini dikawal oleh kapal perusak dari Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudra Hindia. Kapal ini sebelumnya terdeteksi di lepas pantai dari India.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar