Kredit Foto: IESR
Reformasi PLN dan PPA Bankable
Di sisi hulu, ambisi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW dipandang sebagai peluang besar bagi investasi swasta, mengingat potensi surya Indonesia yang melebihi 3.200 GWp. IESR mendukung penuh program ini, terutama untuk de-dieselisasi 5 GW PLTD di wilayah terpencil seperti NTT, Maluku, dan Papua.
Namun, daya tarik investasi di sektor ini sangat bergantung pada reformasi di tubuh PT PLN (Persero). IESR menekankan perlunya perbaikan skema Power Purchase Agreement (PPA) agar lebih bankable bagi investor swasta.
“Keberhasilan program ini membutuhkan reformasi PLN dan ruang investasi swasta yang lebih jelas. Transmisi sebagai regulated monopoly harus dipisahkan secara tegas dari kepentingan pembangkitan untuk membuka ruang PPA yang kompetitif,” tegas CEO IESR, Fabby Tumiwa dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Dilema Biodiesel B50
Terkait strategi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong implementasi B50, IESR memberikan catatan kritis dari sisi biaya peluang (opportunity cost). Penggunaan CPO yang terlalu besar untuk pasar domestik berisiko menekan volume ekspor, yang pada gilirannya dapat memangkas pendapatan devisa negara sebesar Rp12-15 triliun.
“IESR menilai B40 merupakan titik pencampuran yang lebih optimal dari sisi manfaat dan biaya. B50 sebaiknya ditempatkan sebagai kebijakan darurat yang sangat kondisional, terutama saat harga minyak dunia melampaui US$110 per barel,” jelas laporan tersebut.
Baca Juga: Diterapkan Juli, Bahlil Sebut Uji Coba B50 Sudah 70%
Transformasi Subsidi Sebagai langkah jangka menengah (2027-2029), IESR mendorong pemerintah untuk segera melakukan transformasi subsidi BBM dari berbasis harga produk menjadi subsidi berbasis penerima (tepat sasaran). Langkah ini dipandang sebagai kunci untuk menyeimbangkan stabilitas harga di tingkat konsumen tanpa mengorbankan defisit anggaran.
“Krisis Selat Hormuz adalah ujian terhadap desain ketahanan energi kita. Solusinya bukan lagi mencari cadangan minyak baru, melainkan menurunkan permintaan fosil melalui elektrifikasi yang terukur dan efisiensi energi di seluruh sektor industri,” tutup Fabby.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: