Stok Amunisi Pertahanan AS Kian Menipis Akibat Serangan ke Iran, Banyak Jenderal yang Khawatir
Kredit Foto: Istimewa
Konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah menguras drastis persediaan persenjataan kritis militer AS.
Tingginya angka penggunaan amunisi canggih di Timur Tengah ini memicu keprihatinan para komandan militer AS mengenai kerentanan pertahanan mereka jika dihadapkan pada potensi konflik dengan negara lain, seperti Rusia dan China.
Berdasarkan laporan jurnalisme investigasi dari The New York Times, Eric Schmitt, mengatakan militer AS menghabiskan persediaan amunisinya dengan kecepatan yang sangat tinggi sejak dimulainya perang.
"Data tersebut dihimpun dari berbagai dokumen penilaian internal yang dibocorkan oleh sejumlah pihak di Pentagon, militer, dan Kongres yang merasa publik berhak mengetahui situasi sebenarnya," kata Eric.
Ia menambahkan rincian penggunaan senjata menunjukkan angka penyusutan yang signifikan karena Militer AS dilaporkan telah menggunakan sekitar 1.000 unit rudal jelajah siluman jarak jauh (JASSM) untuk menghantam target strategis di Iran, yang membuat cadangannya kini hanya tersisa sekitar 1.500 unit.
"Selain itu, lebih dari 1.000 rudal penjelajah Tomahawk juga telah diluncurkan, dengan sisa cadangan diperkirakan berada di angka 3.000 unit," tambahnya.
Tidak hanya senjata serang, sistem pertahanan udara AS pun ikut terkuras, lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot telah dihabiskan untuk menghalau serangan dari Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia.
Saat ini, stok Patriot diperkirakan hanya tersisa 2.000 unit. Kondisi paling kritis terjadi pada cadangan rudal presisi dan serangan darat. Setelah menembakkan lebih dari 1.000 unit, perkiraan internal Pentagon menyebutkan sisa cadangan rudal jenis ini hanya tinggal beberapa ratus unit.
Tak hanya itu, sejumlah jenderal dan komandan pasukan AS yang bertugas di kawasan Eropa dan Asia menyuarakan kekhawatiran mendalam atas fenomena ini.
Mereka memperingatkan bahwa pemindahan besar besaran sistem pencegat dan rudal jelajah yang sejatinya dipersiapkan untuk skenario perang melawan Tiongkok ini justru akan melemahkan posisi pasukan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia lainnya.
"Terlebih, biaya operasional dari konflik ini sangat fantastis, menelan anggaran hingga 1 miliar dolar AS per harinya," pungkasnya.
Laporan terkait menipisnya stok amunisi ini memicu respons keras dari pemerintah. Saat dikonfirmasi dalam konferensi pers, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengkritik media yang mempublikasikan informasi tersebut, dengan alasan hal itu dapat berdampak pada keselamatan publik dan strategi militer.
Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Caroline Leavitt menepis kekhawatiran adanya krisis amunisi. Ia dengan tegas mengklaim bahwa AS memiliki militer terkuat di dunia dengan persediaan senjata yang masih terisi penuh dan lebih dari cukup, baik di wilayah domestik maupun di seluruh dunia.
"Meski mendapat sanggahan dari pihak pemerintah, The New York Times menyatakan tetap berpegang teguh pada laporan mereka. Pihak media menilai bahwa rincian total kerugian akibat perang ini, baik dari segi finansial maupun jumlah amunisi yang terkuras, merupakan informasi krusial yang wajib diketahui oleh publik," jelas Eric.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: