Trump Diskusi Bareng Elite Minyak Amerika Serikat, Blokade Iran Bakal Panjang?
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi perusahaan energi terkait dengan gejolak harga minyak akibat perangnya dengan Iran. Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman negara itu akan menekan pasokan minyak dari Teheran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini dilaporkan menggelar pertemuan tersebut untuk membahas sejumlah aspek penting, mulai dari produksi minyak, kontrak berjangka (oil futures), pengiriman (shipping) hingga gas alam.
Baca Juga: Iran Kecam Penyitaan Kapal oleh Amerika Serikat: Pembajakan, Langgar Hukum Internasional
“Mereka membahas langkah yang telah diambil presiden untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi jika blokade perlu dilanjutkan selama berbulan-bulan, sambil meminimalkan dampaknya bagi konsumen dari Amerika Serikat,” kata Gedung Putih.
Pertemuan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pihak yang memiliki posisi penting, misalnya Bos Chevron, Mike Wirth. Adapun pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Scott Bessent, Susie Wiles, Steve Witkoff hingga Jared Kushner.
Gedung Putih sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan blokade terhadap Iran. Ia akan menjadi alat utama tekanan terhadap Teheran. Washing percaya langkah tersebut memberi leverage maksimal bagi Amerika Serikat.
Sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Hal ini menyusul belum usainya konflik kedua negara yang terus berkecambuk di Timur Tengah.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyatakan pihaknya telah meningkatkan tekanan finansial terhadap negara tersebut guna melemahkan jaringan ekonomi Teheran. Lewat “Economic Fury”, pihaknya tengah menargetkan berbagai jaringan penting dari Iran.
"Kami telah menargetkan infrastruktur perbankan bayangan internasional, akses ke kripto, armada bayangan, serta jaringan pengadaan senjata dari Iran," ujarnya.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk memutus pendanaan kelompok proksi serta kilang independenyang mendukung perdagangan minyak dari Iran. Bessent mengklaim kebijakan tersebut telah mengganggu puluhan miliar dolar pendapatan dari Teheran.
"Tindakan ini telah mengganggu puluhan miliar dolar yang sebelumnya digunakan untuk mendanai pemerintah dari Iran," katanya.
Menurutnya, tekanan tersebut menyebabkan inflasi dmeningkat dua kali lipat dan nilai mata uangnya melemah tajam. Semua hal tersebut akan menjadi tekanan ekonomi yang dirasakan oleh Iran.
Amerika Serikat juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan yang berdampak langsung pada perdagangan minyak dari Iran. Bessent menyebut terminal ekspor utama dari negara itu mendekati kapasitas penyimpanan maksimum.
Blokade Iran sendiri telah mengguncang pasar energi global, memicu volatilitas harga minyak dan kekhawatiran gangguan pasokan. Jika blokade berlangsung berbulan-bulan, tekanan terhadap rantai pasok energi global berpotensi semakin besar.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan terkait durasi blokade dan kebijakan energi. Dengan konflik yang belum mereda, arah pasar minyak global masih sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan keputusan kebijakan dari Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: