Kredit Foto: Siaran Pers/Allianz Life Indonesia
Allianz Indonesia catatkan total dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp43,7 triliun sepanjang 2025, tumbuh 9,8% secara tahunan di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian ekonomi internasional.
Adapun dana kelolaan tersebut mencakup Allianz Life, Allianz Syariah, dan DPLK Allianz berdasarkan laporan keuangan perusahaan tahun 2025. Sepanjang tahun lalu, Allianz Indonesia mengelola 49 jenis unit-link fund. Adapun tiga produk dengan dana kelolaan terebesar terdiri dari Smartlink Equity senilai Rp5,8 triliun, Smartlink Fixed Income Rp1,7 triliun, dan Smartlink Balanced sebesar Rp1,4 triliun.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti mengatakan, perusahaan tetap mengedepankan pengelolaan investasi yang disiplin dan adaptif untuk menjaga keseimbangan risiko dan imbal hasil portofolio nasabah.
“Resiliensi ekonomi domestik dan likuiditas pasar menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil portofolio, guna mendukung komitmen perlindungan dan manfaat investasi bagi nasabah,” ujar Ni Made dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, Allianz mulai menyiapkan strategi investasi yang lebih selektif untuk menghadapi 2026 dengan fokus pada kualitas aset, pengelolaan risiko, dan fleksibilitas likuiditas.
“Memasuki 2026, kami mempersiapkan strategi yang lebih selektif dengan menekankan kualitas aset dan pengelolaan risiko yang terukur, agar tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang nasabah,” katanya.
Ia menilai, kondisi makroekonomi domestik pada 2026 masih kondusif dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2%-5,8% dan inflasi yang diperkirakan terjaga pada rentang 1,5%-3,5%.
Baca Juga: OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth HSBC, AUM Senilai Rp89,8 Triliun
Baca Juga: Iran Terpecah, Amerika Serikat Bilang Ada Konflik Kaum Pragmatis dan Kelompok Garis Keras di Teheran
Baca Juga: Ancaman Siber dan Biaya Medis Tekan Industri Asuransi Jiwa
Di tengah kondisi pasar yang dinamis, Allianz menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian melalui penempatan investasi yang selektif dan berbasis fundamental.
“Dalam situasi pasar yang berubah cepat, kami mengajak nasabah untuk meninjau tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko, serta alokasi aset secara berkala. Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” tambahnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: