Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kasus Hantavirus Muncul di 9 Provinsi, DPR Desak Pemerintah

Kasus Hantavirus Muncul di 9 Provinsi, DPR Desak Pemerintah Kredit Foto: DPR RI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kemunculan kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia memicu alarm kewaspadaan. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mendesak pemerintah untuk segera memperkuat sistem deteksi dini dan mengencangkan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dalam tiga tahun terakhir telah tercatat sedikitnya 23 kasus infeksi Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi. Dari jumlah tersebut, tiga kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance (pengawasan), dan edukasi kesehatan masyarakat,” tegas Netty dalam keterangannya di Jakarta.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat, khususnya tikus. Netty memaparkan bahwa virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara atau debu yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, maupun air liur tikus.

Kondisi ini diperparah oleh gejala awal Hantavirus yang kerap mengecoh karena sangat mirip dengan penyakit flu biasa seperti demam tinggi, tubuh lemas, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga sesak napas.

“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Netty menyoroti bahwa penyebaran penyakit ini sangat berkaitan dengan tata kelola lingkungan hidup. Permukiman padat penduduk, pengelolaan sampah yang buruk, serta sanitasi yang belum optimal menjadi lahan subur bagi perkembangbiakan tikus pembawa virus.

Menyikapi hal ini, Netty meminta Kemenkes untuk segera memperkuat sistem surveillance epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan (faskes), terutama di daerah-daerah yang sudah teridentifikasi memiliki kasus.

“Tenaga kesehatan perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat, melakukan diagnosis dini, serta mencegah keterlambatan penanganan pasien,” imbuhnya.

Ia juga mendorong sinergi lintas sektor, termasuk pelibatan aktif pemerintah daerah, untuk segera melakukan pengendalian populasi tikus dan perbaikan sistem sanitasi publik.

Di sisi lain, komunikasi risiko kepada publik harus dilakukan secara masif namun terukur agar warga bisa waspada tanpa harus panik.

Netty mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan mandiri, seperti:

  • Rutin membersihkan rumah dan menutup rapat tempat penyimpanan makanan.
  • Menggunakan alat pelindung diri (masker dan sarung tangan) saat membersihkan area yang rawan kotoran tikus.
  • Segera memeriksakan diri ke faskes terdekat jika mengalami gejala flu setelah kontak dengan lingkungan yang diduga terkontaminasi.

Baca Juga: Muncul Suspek Hantavirus di Jakarta, DPRD DKI Minta Pemprov Waspada

Baca Juga: Kemenkes sebut Hantavirus Pernah Terdeteksi Sejak Tahun 1980-an, Begini Penjelasan Lengkapnya

“Kasus ini menjadi pengingat bahwa kita perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi penyakit infeksi emerging akibat perubahan lingkungan. Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” pungkas Netty.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat