Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Membangun Stabilitas Tanpa Kepercayaan: Makna KTT Trump-Xi

Oleh: Mahendra Siregar, Ekonom dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (2018-2019)

Membangun Stabilitas Tanpa Kepercayaan: Makna KTT Trump-Xi Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 di Beijing dibutuhkan bukan karena kedua negara saling percaya, melainkan karena biaya dan risiko konflik sudah terlalu tinggi. Setelah berbulan-bulan hubungan AS-RRT kembali dibayangi tarif, pembatasan teknologi, ketegangan rantai pasok, dan isu geopolitik, kedua pemimpin memiliki kepentingan yang sama untuk mencegah hubungan bilateral bergerak ke arah konfrontasi terbuka.

Hubungan ekonomi menjadi jalur yang paling mungkin menghasilkan kesepakatan. AS membutuhkan hasil konkret yang dapat ditunjukkan kepada publik: tarif yang lebih terkendali, pembelian produk AS, stabilitas harga, dan kepastian bagi pasar. Sebaliknya, RRT membutuhkan prediktabilitas agar hubungan dagang tidak terus-menerus berubah menjadi instrumen tekanan politik. Bagi Beijing, stabilitas perdagangan penting bukan hanya untuk hubungan eksternal, tetapi juga untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Menariknya, persiapan utama KTT ini tidak hanya bertumpu pada jalur diplomasi luar negeri tradisional. Jalur ekonomi justru tampak menjadi kanal pra-negosiasi utama. Menteri Keuangan AS Scott Bessent -bersama USTR Jamieson Greer dalam rangkaian komunikasi ekonomi sebelumnya- berinteraksi langsung dengan Wakil Perdana Menteri RRT He Lifeng. He dijadwalkan memimpin delegasi RRT untuk pembicaraan ekonomi dan perdagangan dengan pihak AS di Korea Selatan pada 12–13 Mei, tepat sebelum KTT Beijing. Ini menunjukkan bahwa inti pertemuan kemungkinan besar bukan rekonsiliasi strategis, melainkan paket transaksional ekonomi: tarif, akses pasar, logam tanah jarang, pembelian komoditas, stabilitas rantai pasok, serta sebagian aturan terkait teknologi dan AI.

AS tidak ingin inflasi, guncangan pasar keuangan, dan rantai pasok kembali terganggu. RRT juga membutuhkan kepastian perdagangan, akses teknologi yang lebih terprediksi, dan stabilitas ekonomi dalam negeri. Karena itu, kedua pihak memiliki alasan kuat untuk mencari titik temu. Namun, titik temu tersebut tidak berarti kepercayaan telah pulih. Justru sebaliknya, kesepakatan yang mungkin lahir dari KTT ini lebih mencerminkan kebutuhan untuk mengelola ketidakpercayaan agar tidak berubah menjadi krisis terbuka.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: