Membangun Stabilitas Tanpa Kepercayaan: Makna KTT Trump-Xi
Oleh: Mahendra Siregar, Ekonom dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (2018-2019)
Kredit Foto: Reuters
Makna Riil KTT
Berdasarkan tinjauan di atas, KTT ini lebih tepat dipahami sebagai upaya membangun stabilitas tanpa kepercayaan. AS dan RRT tidak sedang berdamai dalam arti strategis. Keduanya sedang berusaha menunda eskalasi, membeli waktu, dan menjaga agar kompetisi besar di antara mereka tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.
Rivalitas strategis dalam geopolitik, militer, supremasi ekonomi, teknologi informasi, dan AI akan terus berlanjut. Namun, kedua negara tampaknya menyadari bahwa konflik terbuka, perang tarif yang tidak terkendali, gangguan rantai pasok, dan ketegangan geopolitik yang meluas akan menimbulkan biaya besar bagi keduanya. Karena itu, stabilitas yang hendak dibangun bukan lahir dari kepercayaan, melainkan dari kesadaran bahwa biaya konflik dan risikonya sudah terlalu tinggi.
Jika KTT Beijing dinilai berhasil, maka peluang pertemuan lanjutan — mulai dari kemungkinan kunjungan balasan Xi Jinping ke Washington, APEC di Shenzhen, hingga G20 di Miami — dapat menjadi ruang untuk hasil yang lebih substantif. Namun, keberhasilan itu tetap perlu dibaca secara realistis: bukan sebagai pemulihan kepercayaan, melainkan sebagai kemampuan dua negara besar untuk mengelola ketidakpercayaan tanpa membiarkannya berubah menjadi krisis terbuka yang mengguncang ekonomi dan politik dunia.
Karena itu, keberhasilan KTT Beijing tidak seharusnya diukur dari apakah AS dan RRT kembali saling percaya. Ukurannya lebih realistis: apakah dua negara besar yang saling tidak percaya masih mampu membangun aturan main minimum agar kompetisi mereka tidak berubah menjadi krisis global. Inilah paradoks KTT Beijing: stabilitas mungkin tercapai justru karena kepercayaan tidak ada.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: