Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Dibuka Melemah ke 6.955, Tekanan Jual Masih Berlanjut

IHSG Dibuka Melemah ke 6.955, Tekanan Jual Masih Berlanjut Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah mengalami koreksi tajam pada akhir pekan lalu. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia hingga pukul 09.01 WIB, IHSG turun 13,79 poin atau 0,20% ke level 6.955,61.

Pelemahan terjadi setelah IHSG pada perdagangan Jumat (8/5/2026) ditutup jeblok 204,92 poin atau 2,86% ke posisi 6.969,39. Tekanan jual masih mendominasi pasar pada awal pekan seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sejumlah sentimen global dan domestik.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.943,50 hingga 6.968,93. Nilai transaksi tercatat Rp632,81 miliar dengan volume perdagangan mencapai 14,98 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 119.760 kali.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah memprediksi pergerakan IHSG sepanjang 11–13 Mei 2026 akan bergerak mixed dan cenderung terbatas. Menurut dia, perdagangan pekan ini hanya berlangsung selama tiga hari akibat libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14–15 Mei 2026.

“Agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei berpotensi memicu rotasi portofolio yang dapat menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar,” ujar Hari dalam risetnya, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan rebalancing MSCI Indonesia kemungkinan tidak menghadirkan emiten baru, namun tetap berpotensi memicu perubahan bobot saham yang mempengaruhi arah pasar secara keseluruhan. Kondisi tersebut dinilai krusial karena investor asing masih mencatatkan net sell dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Selain sentimen MSCI, pasar juga dibayangi rencana kenaikan tarif royalti mineral yang tengah disiapkan pemerintah. Kementerian ESDM sebelumnya menggelar public hearing terkait usulan perubahan tarif royalti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak yang ditargetkan berlaku mulai Juni 2026.

Hari menilai kenaikan tarif royalti tersebut berpotensi menekan sektor pertambangan dan energi, terutama karena muncul bersamaan dengan wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang sedang dikaji Kementerian Keuangan.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian,” jelasnya.

Baca Juga: Rebalancing MSCI hingga Windfall Tax Bayangi Pergerakan IHSG

Baca Juga: Saham Tambang Berguguran, IHSG Terkapar Dihantam Sentimen Royalti Minerba

Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Jeblok 2,86% ke 6.969 Tertekan Sentimen Global

Ia menyebut sektor emas menjadi komoditas dengan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase, sementara timah dinilai paling terdampak secara keseluruhan karena kenaikan terjadi di kedua rentang tarif.

Dari sisi global, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, termasuk pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait peluang berakhirnya perang Ukraina serta agenda pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” kata Hari.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri