Kredit Foto: Antara
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai meningkatnya tensi geopolitik global dan berbagai tekanan eksternal menjadi pemicu utama capital outflow. Kondisi tersebut memicu terjadinya tekanan di pasar modal Indonesia sepanjang awal 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan dinamika global mulai dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyesuaian outlook lembaga internasional, hingga konflik di Timur Tengah telah memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan domestik.
“Ketika Februari terjadi perang antara Amerika dan Israel, ini semakin menempatkan hampir seluruh negara di dunia dalam posisi yang tidak mudah karena faktor energi,” ujar wanita akrab disapa Kiki di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (11/5/2026),
Menurutnya, konflik geopolitik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Kondisi itu berdampak langsung terhadap harga minyak dan memicu volatilitas pasar keuangan global.
Kiki menyebut kombinasi berbagai faktor global tersebut akhirnya memengaruhi sentimen pasar dan memicu aliran dana keluar atau capital outflow dari pasar modal Indonesia. Selain itu, tekanan juga dirasakan pada nilai tukar rupiah dan pergerakan indeks saham domestik.
"Berbagai faktor tersebut tentunya pada akhirnya kita mengaruhi sentimen pasar yang tercermin pada folatilitas pasar keuangan kemudian juga capital outflow," ungkap dia.
Baca Juga: Rebalancing MSCI hingga Windfall Tax Bayangi Pergerakan IHSG
Baca Juga: Ekonomi RI Tertinggi di G20, Pemerintah Kawal Pasar Modal Hadapi Capital Outflow
Meski demikian, Kiki menegaskan kondisi tersebut bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di banyak negara berkembang atau emerging markets.
Di tengah tekanan global, lanjut Kiki, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang mencapai 5,61%, tertinggi sejak 2022.
"Kita harus selalu bersyukur bahwa ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi tadi disampaikan juga bagaimana pengumuman BPS bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,61%," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Dwi Aditya Putra