Negara Dorong Warganya Beralih ke Mobil Listrik, Tapi Infrastrukturnya Belum Siap dan Pemadaman Listrik Masih Sering Terjadi
Kredit Foto: Unsplash/Waldemar Brandt
Penggunaan kendaraan listrik (EV) di kawasan Afrika melonjak tajam dengan Ethiopia sebagai pelopor, seiring meroketnya harga dan kelangkaan bahan bakar yang memaksa negara-negara di kawasan tersebut beralih ke transportasi yang lebih bersih dan murah.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Tiongkok, Afrika mengimpor 44.358 unit kendaraan listrik dari Tiongkok pada 2025, naik dari 19.386 unit pada 2024. Pengiriman senilai lebih dari 200 juta dolar AS itu menunjukkan permintaan yang terus meningkat, terutama di Ethiopia setelah negara tersebut melarang impor kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel baru pada 2024, demikian data yang dilaporkan abc.news.
Saat ini, lebih dari 115.000 kendaraan listrik beroperasi di Ethiopia atau sekitar 8 persen dari total armada nasional. Pada 2025, Ethiopia menyumbang sepertiga dari total impor EV Afrika dari Tiongkok, mengungguli Afrika Selatan, Mesir, Maroko, dan Nigeria.
Seiring berlarutnya perang Iran, kelangkaan bahan bakar di Ethiopia mulai berdampak pada sistem transportasi dan kehidupan sehari-hari. Kondisi itu memperkuat upaya pemerintah untuk memangkas impor minyak dan gas yang mahal sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, tren tersebut juga memunculkan tantangan terkait infrastruktur pengisian daya dan keterjangkauan harga kendaraan listrik.
Pemerintah Ethiopia pun mempercepat kampanye adopsi kendaraan listrik sebagai langkah untuk mengurangi dampak guncangan pasokan energi dari luar negeri.
Ethiopia memiliki keuntungan karena lebih dari 90 persen pasokan listriknya berasal dari energi terbarukan, terutama tenaga air dan surya. Mesir, Afrika Selatan, dan Maroko juga mulai mempercepat transisi kendaraan listrik melalui kombinasi insentif kebijakan, investasi manufaktur, dan pengembangan energi bersih.
Pimpinan Kebijakan dan Investasi Africa E-Mobility Alliance, Bob Wesonga, mengatakan transisi tersebut mulai mengurangi tekanan terhadap permintaan bahan bakar.
"Kini ada lebih dari 100.000 pemilik kendaraan yang tidak lagi terdampak langsung oleh lonjakan harga di pom bensin,” ujarnya. “Dalam jangka menengah hingga panjang, ini menciptakan penyangga terhadap volatilitas harga minyak global.”
Menurut Wesonga, pemilik kendaraan listrik pribadi di Ethiopia kini hanya menghabiskan sekitar 4 dolar AS per bulan untuk pengisian daya, dibanding sekitar 27 dolar AS sebelumnya untuk membeli bahan bakar.
Meski demikian, transisi menuju kendaraan listrik masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Infrastruktur pengisian daya dinilai belum berkembang cukup cepat untuk mengimbangi peningkatan permintaan.
Ethiopia saat ini tengah membangun pusat pengisian daya ultra-cepat di Addis Ababa. Namun, perluasan jaringan hingga tingkat nasional membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak singkat.
"Kendala terbesarnya adalah distribusi listrik tahap akhir atau last-mile distribution. Meski Ethiopia memiliki surplus pembangkit listrik, mengalirkan daya secara andal ke lokasi yang membutuhkan, terutama di luar Addis Ababa, masih menjadi tantangan.”
Pemadaman listrik yang masih sering terjadi serta keterlambatan penyambungan stasiun pengisian daya berkapasitas tinggi juga memperlambat pembangunan infrastruktur pendukung.
Selain memperluas penggunaan EV, Ethiopia juga berupaya membangun industri kendaraan listrik domestik. Data resmi menunjukkan terdapat 17 pabrik perakitan EV yang sedang dibangun, dengan target meningkat menjadi 60 pabrik pada 2030 sebagai bagian dari strategi menekan biaya dan melokalisasi produksi.
Namun, harga kendaraan listrik yang masih tinggi menjadi hambatan utama bagi masyarakat.
"Harga belinya masih di luar jangkauan banyak orang. Di sisi lain, pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil turut mendorong kenaikan harga mobil bekas," kata Wesonga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: