Rekor Buruk, Rupiah Jebol ke Level Rp17.500 Pada Perdagangan Pagi Ini
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka anjlok 0,42% ke level Rp17.486 pada perdagangan Selasa (12//2026). Hingga pukul 09.44 WIB mata uang Garuda melemah makin tajam 0,52% menuju ke level Rp17.505 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah masih dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Ini setelah proposal perdamaian dari Presidan AS, Donald Trump, kepada Iran ditolak.
"Pada hari Minggu, Trump menolak proposal balasan terbaru Teheran terhadap kerangka perdamaian Washington, dengan mengatakan bahwa tanggapan Iran sama sekali tidak dapat diterima. Komentar tersebut meredam harapan akan meredanya ketegangan dalam waktu dekat di kawasan Teluk," kata Ibrahim kepada wartawan.
Proposal asli AS dilaporkan menginginkan penghentian kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Tanggapan Iran, yang disampaikan melalui mediator Pakistan, justru dilaporkan menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.
Wall Street Journal bahkan melaporkan bahwa Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.414 Usai Tak Ada Kesepakatan Damai AS-Iran
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Pengamat Sebut Masalah Neraca Perdagangan dan Fiskal Jadi Sebab
Sementara dari dalam negeri, kata Ibrahim, pelemahan rupiah akibat sentimen Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada April 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap terjaga di zona optimistis.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level 123,0 atau meningkat tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9. Level indeks di atas 100 mencerminkan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: