- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Berburu 'Harta Karun' Abad-21: Mampukah RI Pecahkan Hegemoni China di Logam Tanah Jarang?
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Rejeki Nomplok di Mamuju
Di tengah tantangan tersebut, Indonesia menemukan titik terang melalui penemuan deposit primer di Mamuju, Sulawesi Barat. Selama ini, LTJ di Indonesia mayoritas merupakan mineral ikutan dari komoditas timah, nikel, maupun bauksit.
“Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan,” kata Irwandy.
Data eksplorasi menunjukkan kadar total LTJ di Mamuju mencapai kisaran 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung yang berada di level 1.000-2.391 ppm. Hal ini menempatkan Mamuju sebagai prioritas strategis nasional selain wilayah Parmonangan di Tapanuli Utara yang memiliki potensi kadar 2-1.400 ppm dengan tipe endapan lateritik residual.
Konsolidasi BUMN: BIM dan PT Perminas
Untuk mengeksekusi potensi tersebut, pemerintah telah membentuk instrumen kelembagaan baru. Selain Badan Industri Mineral (BIM), telah dibentuk pula PT Perminas yang akan difokuskan menangani tata kelola LTJ. Langkah ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam mengintegrasikan hulu hingga hilir.
Namun, rekam jejak kerja sama internasional menunjukkan tantangan besar dalam transfer teknologi. Irwandy mencatat, rintisan kerja sama PT Timah Tbk dengan pemain global seperti Lynas Corporation (Australia/Malaysia), Less Common Metals (Inggris), hingga Canada Rare Earth Corporation sejak 2018 hingga 2021 masih menemui jalan terjal.
"Sampai dengan saat ini Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan atau pemrosesan logam tanah jarang yang mencapai skala ekonomi. Ada beberapa yang mencoba sampai skala laboratorium, dan ada yang sudah sampai skala pilot di Tanjung Ular (Bangka) dan Tanjung Unggat (Kepri)," tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: