Rhenald Kasali Bongkar Penyebab Seller Ramai-Ramai Mau Tinggalkan Marketplace
Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Pakar manajemen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, menilai maraknya seruan pelapak atau seller keluar dari marketplace mencerminkan perubahan fase industri ekonomi digital. Setelah bertahun-tahun tumbuh lewat strategi subsidi dan promosi agresif, platform kini mulai mengejar profitabilitas sehingga beban biaya semakin dirasakan penjual.
Menurut Rhenald, tekanan terhadap penjual muncul setelah model bisnis platform memasuki fase baru.
“Dulu bisnis itu pernah mengalami masa emas. Karena apa? Karena platform-nya juga dulu bakar duit. Kita dimanjakan, ada banyak sekali potongan-potongan. Konsumen juga sangat dimanjakan. Tapi sekarang, platform harus cari duit. Era bakar duit sudah berakhir,” ujar Rhenald dalam unggahan video di Instagram.
Ia menambahkan pelemahan nilai tukar rupiah juga ikut memberi tekanan terhadap operasional perusahaan teknologi. Menurut dia, sebagian biaya infrastruktur digital, termasuk layanan cloud, masih menggunakan mata uang dolar AS.
Di tengah desakan agar pemerintah turun tangan mengatur biaya platform, Rhenald menilai terdapat kepentingan yang saling beririsan antara platform, pelaku usaha, dan konsumen.
“Pemerintah coba berpikir. Ini ada tiga pihak loh. Platform, ini pasti akan ditekan. Kalau ditekan terus kan mereka bisa kabur dari negara kita. Masa kita menjadi negara gelap gulita?” katanya.
Baca Juga: Lewat Aturan Baru, Pemerintah Siapkan Potongan Biaya Layanan E-Commerce 50 Persen
Baca Juga: Kemendag Dorong Platform E-Commerce Prioritaskan Produk Lokal di Tengah Polemik Biaya Seller
Menurutnya, marketplace selama ini berkontribusi menjaga harga tetap kompetitif dan membantu pelaku UMKM yang belum memiliki kemampuan teknologi mandiri.
Ia juga mengingatkan bahwa rencana membangun ekosistem digital secara terpisah memiliki risiko yang tidak kecil.
“Masalahnya kan kalau kita lakukan itu, ini kita belum mandiri, bisa mati lebih dulu. Kenapa begitu? Karena untuk bangun itu nggak bisa sendiri-sendiri,” tuturnya.
Rhenald menilai platform besar saat ini telah membangun sistem kepercayaan yang mencakup pembayaran, proteksi pembeli, sistem ulasan hingga infrastruktur logistik. Menurut dia, jika perdagangan digital terpecah ke banyak kanal kecil, risiko penipuan dapat meningkat dan efisiensi biaya distribusi berpotensi menurun.
Ia juga menyoroti dampak terhadap tata kelola ekonomi digital. Menurutnya, perpindahan transaksi ke kanal yang tersebar dapat menyulitkan pemerintah membaca pola ekonomi digital nasional.
“Data ekonomi digital pun bagi pemerintah akan gelap. Pemerintah tidak bisa mengonsolidasi, membaca, karena sporadis, masing-masing jual sendiri-sendiri,” ujarnya.
Rhenald menambahkan kelompok yang berpotensi paling terdampak bukan masyarakat perkotaan, melainkan konsumen di daerah luar pusat ekonomi yang selama ini mengandalkan marketplace sebagai akses utama terhadap barang dan layanan.
"Menurut saya sih yang paling menderita ini bukanlah orang-orang kota seperti kita, tetapi konsumen yang di pinggiran, perbatasan dengan Kalimantan, perbatasan dengan pulau-pulau terpencil kita di luar, kemudian konsumen di Pulau Flores, di pulau-pulau lainnya," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: