Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Jadi Mata Uang Paling Boncos di ASEAN, Ekonom Bongkar Penyebabnya

Rupiah Jadi Mata Uang Paling Boncos di ASEAN, Ekonom Bongkar Penyebabnya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonom Wijayanto Samirin menilai pelemahan rupiah yang kini mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) lebih banyak dipicu persoalan domestik dibandingkan faktor global. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah justru terjadi ketika mayoritas mata uang negara ASEAN mencatat penguatan terhadap dolar AS dalam enam bulan terakhir.

“Kalau kita mengatakan rupiah melemah karena faktor global, faktanya kita itu tahun ini melemah terhadap 86% mata uang dunia,” ujar Wijayanto kepada Warta Ekonomi, Selasa (26/5/2026).

Wijayanto mengatakan dalam enam bulan terakhir rupiah melemah sekitar 6% terhadap dolar AS. Sementara itu, mata uang regional seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga dong Vietnam justru mengalami apresiasi.

“Ketika Indonesia mata uang rupiah melemah 6 bulan terakhir sekitar 6% terhadap US Dollar. (Di sisi lain) Singapore Dollar, Malaysian Ringgit, kemudian Thailand Baht, Vietnam Dong, itu mengalami apresiasi,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah berasal dari persoalan internal, mulai dari kekhawatiran pasar terhadap fiskal pemerintah, neraca pembayaran, hingga komunikasi kebijakan yang dinilai kurang dapat diprediksi oleh investor global.

“Jadi kita harus pahami permasalahan rupiah itu adalah permasalahan dalam negeri, bukan permasalahan eksternal,” ujarnya.

Menurut Wijayanto, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memang memperburuk sentimen pasar. Namun, tren pelemahan rupiah sudah terjadi sebelum konflik Iran memanas.

“Kalau berbicara masalah rupiah, sebenarnya tanpa kejadian di Iran pun tren rupiah itu sedang melemah. Karena faktor fiskal di mana investor dan masyarakat dunia itu concern terkait dengan potensi defisit yang melebar,” katanya.

Ia menjelaskan, pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga keberlanjutan fiskal karena pembiayaan defisit masih bertumpu pada penerbitan utang baru.

“Nanti defisit itu juga harus ditutup dengan utang. Nah yang menjadi pertanyaan adalah, ketika kita tidak berhasil menerbitkan utang baru untuk menutup itu, para investor bertanya-tanya, lalu uang mereka bisa kembali enggak?” ujar Wijayanto.

Selain fiskal, ia juga menyoroti tekanan pada neraca pembayaran Indonesia yang dinilai terlalu bergantung pada ekspor komoditas berbasis sumber daya alam dengan harga yang sangat fluktuatif mengikuti kondisi global.

“Kalau kita melihat balance of payment, revenue pemerintah ini sangat tergantung dan makin tergantung pada komoditas yang harganya naik turun tergantung situasi global,” katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: