Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT PLN (Persero) mencatatkan lonjakan signifikan pada pos utang bank jangka pendek sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian perseroan, kenaikan kewajiban jangka pendek badan usaha milik negara (BUMN) sektor ketenagalistrikan ini berjalan di tengah posisi kas internal yang mengalami penyusutan.
Laporan keuangan perseroan menunjukkan posisi utang bank jangka pendek yang merupakan bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun, mencapai Rp58,30 triliun per 31 Desember 2025.
Angka tersebut meningkat sebesar Rp36,51 triliun atau melonjak 167,6% dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp21,79 triliun.
Akselerasi pada pos kewajiban ini sejalan dengan aktivitas pendanaan perseroan, di mana PLN melakukan penarikan utang bank jangka pendek baru dengan nilai nominal mencapai Rp84,89 triliun sepanjang tahun 2025.
Di sisi lain, saldo kas dan setara kas perseroan mengalami penurunan pada akhir tahun buku 2025. Saldo kas bersih PLN tersisa Rp42,20 triliun, atau menyusut sebesar Rp19,16 triliun (turun 31,23%) dari posisi akhir tahun 2024 yang berada di angka Rp61,36 triliun.
Dengan formasi angka tersebut, ketersediaan kas dan setara kas perseroan pada akhir 2025 (Rp42,20 triliun) tercatat Rp16,10 triliun lebih rendah dibandingkan dengan total kewajiban utang bank jangka pendek yang jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun (Rp58,30 triliun).
Baca Juga: PLN Rogoh Kocek Rp195,2 Triliun untuk Beli Listrik Swasta, Berikut 10 IPP Terbesar
Baca Juga: Beban Usaha Membengkak, Bikin Laba PLN Susut ke Rp7,26 Triliun di 2025
Perubahan pada saldo kas ini dipengaruhi oleh penurunan arus kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi perseroan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: