Gen Z Hadapi Persaingan Kerja Kian Ketat, Literasi AI Jadi Modal Utama Raih Peluang Karier.
Kredit Foto: Istimewa
Di tengah pesatnya perubahan dunia kerja global, Generasi Z semakin sering menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai kesiapan tenaga kerja masa depan. Berbagai persepsi bermunculan, mulai dari anggapan bahwa generasi ini kurang ambisius, sulit berkomitmen, hingga memiliki ekspektasi kerja yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Narasi tersebut kerap menjadi perhatian publik dan membentuk stigma terhadap Gen Z di lingkungan profesional.
Menurut Mark Dixon, Founder dan CEO International Workplace Group (IWG), dalam keterangan tertulisnya pada 29 Mei, di balik persepsi tersebut terdapat realitas yang jauh lebih kompleks. Generasi Z saat ini memasuki dunia kerja pada periode yang ditandai dengan transformasi teknologi yang masif, perubahan pola industri, serta persaingan karier yang semakin kompetitif secara global. Kondisi ini menjadikan perjalanan mereka memasuki dunia profesional berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Penelitian dari Randstad and Institute of Student Employers (ISE) menyoroti semakin ketatnya persaingan untuk posisi awal karier, dengan lowongan pekerjaan tingkat pemula global mengalami penurunan sebesar 29 persen (Januari 2024 – akhir 2025).
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam persaingan kerja. Jika pada tahun 2022, satu posisi pekerjaan menerima sekitar 38 pelamar, maka pada 2025 angka tersebut melonjak menjadi sekitar 140 pelamar untuk satu posisi. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar juga mulai memproyeksikan penurunan perekrutan lulusan baru hingga 7 persen untuk periode 2025/2026.
Di Indonesia sendiri, tantangan tersebut juga terlihat jelas, dengan tingkat pengangguran pemuda usia 15-24 tahun berada di angka 14 persen. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah terus memperkuat program seperti “Kartu Prakerja”, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan digital, memperluas akses pelatihan, serta membantu generasi muda meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Inisiatif-inisiatif ini menjadi langkah penting untuk mendukung Generasi Z dalam menavigasi pasar kerja yang terus berkembang, sekaligus memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengembangkan talenta mereka dan memanfaatkan keterampilan digital bawaan generasi ini.
Kedekatan Gen Z dengan teknologi justru menjadi salah satu kekuatan utama yang mereka miliki. Kehadiran smartphone, konektivitas berkecepatan tinggi, hingga platform media sosial sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah keadaan ekonomi saat ini, kemampuan literasi AI menjadi nilai tambah tersendiri. Mereka yang secara aktif bereksperimen dengan alat AI, memahami cara mengaplikasikannya, serta mengintegrasikannya dalam pekerjaan tidak hanya membawa kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir baru. Situasi ini membuka peluang besar terciptanya produktivitas, inovasi baru, dan pertumbuhan di berbagai sektor industri.
“Kita sudah melihat fenomena ini dalam keseharian. Penelitian dari IWG menunjukkan bahwa karyawan Gen Z berperan penting dalam mendorong adopsi AI di seluruh tenaga kerja. Bahkan, hampir dua per tiga pekerja muda secara aktif membantu rekan kerja yang lebih tua untuk belajar dan menggunakan alat AI, mulai dari bimbingan langsung, hingga tips praktis yang mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja sehari-hari,” ujar Mark Dixon.
Menurut Mark, bentuk bimbingan terbalik ini kemudian memberikan hasil yang nyata, meningkatkan kolaborasi, dan mempercepat produktivitas. Kondisi tersebut menyoroti perubahan yang lebih luas: karyawan muda tidak hanya belajar dari organisasi, namun mereka juga secara aktif membentuk cara kerja dilakukan.
Namun demikian, Mark menambahkan bahwa tanggung jawab membangun kesiapan talenta tidak hanya berada di tangan individu. Perusahaan juga memiliki peran penting dalam meningkatkan keterampilan karyawan dan memastikan mereka memiliki fasilitas terbaik di bidangnya. Perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan, bimbingan, dan peluang pengembangan yang bermakna akan mampu menggali potensi yang sangat besar.
Di IWG, kondisi ini terlihat secara langsung. Melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan, termasuk ratusan kursus daring, perusahaan terus mendorong karyawan untuk meningkatkan kemampuan dan menjaga performa mereka agar tetap relevan di tengah perubahan dunia kerja yang cepat.
Selain peningkatan keterampilan, fleksibilitas kerja juga menjadi faktor yang semakin penting bagi generasi muda. Perusahaan yang memberikan kesempatan bagi karyawan untuk bekerja lebih dekat dengan rumah, didukung lingkungan kerja yang nyaman dan inovatif, dinilai akan lebih siap dalam menarik, melibatkan, dan mengembangkan talenta baru sekaligus menjaga produktivitas. Hal ini karena fleksibilitas bukan lagi pilihan; melainkan sudah menjadi harapan. Pergeseran ini juga terjadi semakin cepat, dengan 79 persen remaja berusia 11-17 tahun memperkirakan kerja fleksibel akan menjadi sebuah norma pada tahun 2040.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait: