Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cina Moratorium Smelter Aluminium, Indonesia Jadi Tujuan Baru Investasi

Cina Moratorium Smelter Aluminium, Indonesia Jadi Tujuan Baru Investasi Kredit Foto: Khairunnisak Lubis
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kebijakan moratorium pembangunan smelter aluminium yang diterapkan Pemerintah Cina membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan baru investasi industri aluminium global. Pembatasan kapasitas produksi di negara produsen aluminium terbesar dunia tersebut mendorong investor mencari lokasi alternatif untuk mengembangkan fasilitas peleburan baru.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, mengatakan Cina telah membatasi kapasitas produksi aluminium nasional di level sekitar 46,5 juta ton per tahun meski permintaan global terus meningkat. Kebijakan tersebut diambil karena industri aluminium merupakan sektor yang sangat padat energi dan membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.

"Cina dari beberapa tahun lalu itu menerapkan moratorium pembangunan smelter aluminium. Jadi demand aluminium itu sekitar 75-76 juta ton, Cina itu produksi 45 juta ton, kapasitasnya dia di-cap itu di 46,5 juta. Jadi selama ini kan yang bisa match demand increase in demand dari global market itu ya pabrik-pabrik di Cina. Tapi Cina di-cap kenapa? Karena mereka khawatir dengan power demand-nya," ujarnya dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, pembatasan kapasitas di China telah mengubah peta investasi industri aluminium global. Selama ini, tambahan permintaan aluminium dunia sebagian besar dipenuhi oleh ekspansi smelter di Cina. Namun setelah kapasitas produksi dibatasi, investor mulai mencari negara lain yang mampu menyediakan pasokan energi dan infrastruktur industri yang memadai.

Seto menjelaskan, kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan aluminium global. Di sisi lain, sekitar 9 juta ton kapasitas produksi aluminium di Timur Tengah juga telah berhenti beroperasi sehingga memperketat pasokan di pasar internasional.

Akibatnya, pasar aluminium saat ini mengalami defisit struktural dengan pertumbuhan permintaan mencapai sekitar 1,5 juta hingga 2 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat harga aluminium bertahan pada level yang relatif tinggi, yakni sekitar US$2.700 per ton.

"Jadi aluminium sekarang ini menurut saya salah satu industri yang sangat menarik karena market-nya masih defisit dan demand-nya terus tumbuh," kata Seto.

Ia menambahkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari perubahan lanskap industri tersebut. Selain memiliki sumber daya energi yang kompetitif, sejumlah kawasan industri di dalam negeri juga telah memiliki infrastruktur kelistrikan yang dapat mendukung pengembangan smelter aluminium.

Menurut Seto, sejumlah investor bahkan mulai mengalihkan fokus investasinya ke aluminium, termasuk dengan memanfaatkan kapasitas listrik yang sebelumnya digunakan untuk mendukung operasional smelter *Nickel Pig Iron* (NPI).

Baca Juga: Soal Kelanjutan IKN, Investor Cina Ucapkan Terima Kasih pada Prabowo dan Minta Bandara

Baca Juga: Sebagian Smelter NPI di Weda Bay Akan Ditutup, Beralih ke Aluminium

DEN memperkirakan kapasitas smelter aluminium yang saat ini sedang dibangun di Indonesia dapat mencapai 6 juta hingga 9 juta ton dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Proyek-proyek tersebut tersebar di kawasan Weda Bay, Morowali, Kalimantan Utara, hingga Kalimantan Barat.

Lebih lanjut, Seto mengungkapkan bahwa investor yang masuk ke sektor aluminium nasional tidak hanya berfokus pada peleburan, tetapi juga memiliki jaringan hilirisasi yang kuat hingga ke industri teknologi dan otomotif global.

"Bagusnya yang saya lihat dari tren ini adalah investor yang masuk dari Cina untuk sektor aluminium ini sangat kuat di downstream aluminiumnya. Ada satu yang saya tahu yang di Kalbar dia mensuplai hampir 70 persen aluminium buat Apple. Jadi iPhone itu aluminiumnya dia suplai. Dia suplai mungkin sebagian besar buat Mercedes, buat EV," ungkapnya.

Menurut Seto, masuknya investor dengan jaringan pasar global tersebut berpotensi mempercepat pengembangan industri hilir aluminium bernilai tambah tinggi di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok manufaktur dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra