Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bantah Isu Resesi, Purbaya: Uang Banyak, Kredit Jalan, Konsumsi Naik, Resesi dari Mana?

Bantah Isu Resesi, Purbaya: Uang Banyak, Kredit Jalan, Konsumsi Naik, Resesi dari Mana? Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempertanyakan narasi yang menyebut ekonomi Indonesia menuju resesi. Pasalnya, sejumlah indikator sektor riil, konsumsi masyarakat, likuiditas, hingga kredit perbankan masih menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga Mei 2026.

Ia menegaskan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga di tengah berbagai sentimen negatif yang beredar di ruang publik.

“Jadi ini yang saya agak bingung. Kenapa ada cerita bahwa kita ekonominya menuju resesi ketika stimulus di ekonomi cukup, uang cukup, dan pertumbuhan kredit juga cukup,” kata Purbaya, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2026, Jumat (5/6/2026). 

Data Kementerian Keuangan menunjukkan berbagai indikator konsumsi dan aktivitas sektor riil masih tumbuh kuat. Indeks konsumsi masyarakat mencapai level 123,2 per Mei 2026 dan melanjutkan tren kenaikan dibanding bulan sebelumnya.

Selain itu, indeks keyakinan konsumen berada di level 123,0 yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Dari sektor otomotif, penjualan mobil melonjak 55% secara tahunan pada April 2026, sementara penjualan sepeda motor tumbuh 28,1%.

Di sektor konstruksi, konsumsi semen domestik meningkat 35,6% pada April 2026. Kinerja manufaktur juga bertahan di zona ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,0.

“Yang biru itu sekarang 123,2%. Kita lihat kan dibanding sebelumnya, tren-nya naik. Dan dibanding April sudah naik lagi,” ujar Purbaya.

Baca Juga: Purbaya Tak Terima Disebut Ugal-Ugalan Buat Anggaran: Pajak Naik, Defisit Terjaga!

Baca Juga: Purbaya Tantang Kritik Soal Perhitungan Ekonomi: Mau Pakai Rumus yang Mana?

Baca Juga: APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Belanja Tumbuh Lebih Cepat dari Pendapatan

“Mobil pertumbuhannya 55% di bulan April. Motor 28,1%. Konsumsi semen domestik di bulan April tumbuhnya 35,6%. Ini menunjukkan domestic demand yang kuat,” lanjutnya.

Menurut Purbaya, data tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga, berbeda dengan berbagai narasi yang menggambarkan pelemahan ekonomi secara drastis.

“Ini data yang betul. Kalau Anda melihat aktual ekonomi ya ini,” katanya.

Selain ditopang konsumsi, likuiditas perekonomian juga terus meningkat. Purbaya mengungkapkan pertumbuhan uang beredar hingga minggu ketiga Mei 2026 mencapai 18%.

“Kita lihat sekarang pertumbuhan uang di bulan Mei minggu ketiga itu tumbuhnya 18 persen. Itu level yang amat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan tren pertumbuhan uang beredar terus membaik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. 

“Artinya ada cukup uang di perekonomian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang tinggi,” kata Purbaya.

Di sisi pembiayaan, rata-rata bunga kredit juga menunjukkan penurunan menjadi sekitar 8,73%, yang dinilai mendukung aktivitas investasi dan konsumsi masyarakat.

Sementara itu, realisasi APBN hingga Mei 2026 juga memperlihatkan aktivitas ekonomi yang masih kuat. Pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1% secara tahunan, sedangkan penerimaan pajak meningkat 22,1% menjadi Rp834,4 triliun.

Belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4%, menunjukkan pemerintah masih menjalankan fungsi stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di sisi sektor utilitas, konsumsi listrik nasional juga tumbuh 19% secara tahunan pada April 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan penggunaan listrik rumah tangga, industri, dan sektor bisnis.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri