Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tanda Amerika Sudah Frustrasi dengan Iran, Taktik Era Perang Vietnam Kembali Dipakai Trump

Tanda Amerika Sudah Frustrasi dengan Iran, Taktik Era Perang Vietnam Kembali Dipakai Trump Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gelombang serangan udara terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran dinilai bukan semata-mata respons militer atas situasi di lapangan, melainkan cerminan frustrasi Washington terhadap mandeknya proses negosiasi dengan Teheran.

Penilaian tersebut disampaikan Mantan Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat, Mark Kimmitt, yang menyebut pola tekanan militer yang kini digunakan Donald Trump mengingatkan pada strategi lama Washington saat Perang Vietnam.

Baca Juga: Indonesia Terkejut, Dadan Hindayana Bikin Purnawirawan Bintang Empat Terseret Isu Proyek MBG

Menurut Kimmitt, eskalasi terbaru sulit dijelaskan hanya sebagai balasan atas perkembangan baru di medan konflik. Ia justru melihat adanya faktor diplomatik yang lebih dominan di balik keputusan Gedung Putih untuk kembali menggempur target-target Iran.

"Saya pikir Trump pernah mengatakan dengan bahasa yang cukup kasar bahwa Iran sedang mempermainkan Amerika dan terus mengulur-ulur waktu," kata Kimmitt, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (11/6).

Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS itu menilai taktik memperlambat proses perundingan memang menjadi salah satu karakteristik utama strategi diplomasi Iran selama bertahun-tahun.

Kimmitt kemudian mengaitkan pendekatan tersebut dengan pengalaman Amerika Serikat pada era Perang Vietnam. Saat itu, kata dia, Washington pernah menggunakan bombardemen besar-besaran terhadap Hanoi dan pelabuhan Haiphong ketika negosiasi damai dengan Vietnam Utara mengalami kebuntuan.

Serangan udara masif tersebut akhirnya membuat pihak Vietnam kembali ke meja perundingan setelah sebelumnya dianggap terus memperpanjang proses negosiasi.

"Itu memang pernah dilakukan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam," ujarnya.

Meski demikian, Kimmitt meragukan efektivitas strategi serupa jika diterapkan terhadap Iran saat ini. Menurutnya, Teheran memiliki karakter berbeda dibanding lawan-lawan Amerika pada masa lalu karena kesabaran justru menjadi salah satu senjata utama dalam strategi politik dan diplomasi Iran.

"Saya tidak yakin metode tekanan seperti itu akan berhasil dalam kasus Iran. Kesabaran adalah salah satu alat terbesar yang dimiliki Iran," katanya.

Pernyataan Kimmitt muncul setelah militer Amerika Serikat kembali meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi dilakukan atas perintah langsung Presiden Donald Trump sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai agresi Iran yang terus berlanjut.

Sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Sirik, Pulau Qeshm, Minab, hingga Isfahan.

Menurut CENTCOM, sasaran serangan mencakup fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, dan pertahanan udara Iran yang dinilai mengancam pasukan Amerika maupun jalur pelayaran internasional di kawasan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga mengisyaratkan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militer untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan dalam proses negosiasi dengan Iran.

Pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa operasi militer terbaru bukan hanya bertujuan menghancurkan target strategis Iran, tetapi juga menjadi alat tekanan agar Teheran lebih cepat menyetujui kesepakatan yang diinginkan Amerika Serikat.

Baca Juga: 'Teheran Baru Sadar,' Amerika Klaim Tiap Malam Selundupkan Tanker Minyak Lewati Blokade Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan, serangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran kini mulai bergeser menjadi tekanan militer terbuka, sebuah pola yang mengingatkan pada strategi koersif yang pernah digunakan Amerika dalam berbagai konflik besar sepanjang sejarahnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: