Bantah Fitnah 'Cocokologi' Mobil Fortuner, PDIP Tegaskan Tidak Tunggangi Aksi Eks Ketua BEM UGM
Kredit Foto: Ist
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan membantah keras tuduhan keterlibatan partai dalam aksi demo menolak Program Makan Bergizi Gratis. Pihak partai menilai tudingan yang dilayangkan oleh aliansi mahasiswa BEM Bersatu merupakan bentuk fitnah yang tidak berdasar.
Opini publik yang berkembang belakangan ini disebut sengaja dibangun melalui metode pencocokan informasi yang sangat dipaksakan. Tuduhan tersebut dinilai telah mencederai integritas serta nalar kritis dari gerakan moral murni para mahasiswa.
"Kami memandang perlu untuk meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang secara sengaja dibangun melalui metode 'cocokologi' yang sangat dipaksakan. Tuduhan yang mengaitkan aksi-aksi mahasiswa menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan PDI Perjuangan adalah fitnah yang tidak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa," ujar politikus PDIP Guntur Romli.
Isu kedekatan eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dengan jaringan politik tertentu awalnya mencuat berdasarkan kepemilikan sebuah kendaraan. Aliansi BEM Bersatu mempersoalkan mobil Fortuner operasional Tiyo yang terdaftar atas nama Siti Nuraeni.
Siti Nuraeni sendiri diketahui memiliki hubungan kekeluargaan sebagai adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Sosok purnawirawan tersebut kemudian dikaitkan dengan tokoh tim pemenangan pemilu PDIP Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa.
Guntur Romli mengklarifikasi bahwa pemilik mobil beserta kerabatnya tersebut bukanlah bagian dari kader internal parpol. Penarikan kesimpulan sepihak dari status kepemilikan mobil hingga hubungan besan antarjenderal dinilai sebagai kesesatan berpikir.
"Faktanya: Siti Nuraeni dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukanlah kader maupun pengurus PDI Perjuangan," jelas Guntur Romli.
Pihak struktural partai berlambang banteng menegaskan tidak pernah mengucurkan dana taktis maupun memfasilitasi operasional demonstrasi. PDI Perjuangan juga tidak pernah menugaskan kadernya untuk mengintervensi teknis gerakan mahasiswa di lapangan.
Kehadiran beberapa tokoh politik di ruang publik diklaim murni sebagai hak konstitusional bebas selaku warga negara. Guntur menambahkan bahwa pihak parpol selalu menaruh rasa hormat terhadap independensi gerakan mahasiswa yang objektif.
"Tuduhan murahan dari 'BEM Bersatu' yang dengan mudahnya menyebut aksi mahasiswa 'ditunggangi' atau 'disusupi' oleh partai politik adalah bentuk penghinaan terhadap nalar kritis dan independensi mahasiswa," kata Guntur.
Baca Juga: BEM Bersatu Soroti Tiyo Ardianto, Tuding Ada Jejaring Politik di Balik Gerakan Mahasiswa
Perwakilan parpol menengarai adanya oknum luar kampus yang sengaja menyamar demi merusak nama baik PDI Perjuangan. Guntur bahkan menjuluki kelompok BEM Bersatu sebagai sekumpulan mahasiswa sewaan yang tidak berbasis data valid.
"Banyak bantahan dari organisasi kampus asal terhadap individu yang tergabung di BEM Bersatu, jadi mereka bukan mahasiswa tapi MAHASEWA. PDI Perjuangan difitnah mahasewa yang menamakan dirinya BEM Bersatu," pungkas Guntur.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: