Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Dokumennya Bukan Level Saya,' Trump Enggan Datang Langsung Teken Kesepakatan Damai Amerika-Iran

'Dokumennya Bukan Level Saya,' Trump Enggan Datang Langsung Teken Kesepakatan Damai Amerika-Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkap alasan mengapa dirinya belum tentu hadir secara langsung dalam penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Trump menilai dokumen yang akan ditandatangani tersebut masih sebatas kerangka awal dan belum merupakan perjanjian final yang mengikat kedua negara.

Baca Juga: Donald Trump Ancam Bom Iran Lagi, Tuntut Kesepakatan Harus Untungkan Amerika

"Ini adalah memorandum of understanding. Ini sangat penting, tetapi mungkin bukan jenis dokumen yang seharusnya saya tandatangani," kata Trump, dikutip Kamis (18/6).

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Trump kemungkinan akan mengutus Wakil Presiden AS, JD Vance untuk menghadiri upacara penandatanganan sebagai perwakilan Washington.

Saat ditanya apakah dirinya sengaja mengirim Vance agar mendapat keuntungan politik apabila kesepakatan berhasil dan bisa melempar tanggung jawab jika gagal, Trump justru menanggapinya dengan nada bercanda.

"Saya suka ide itu. Kalau berhasil, saya yang akan mengambil kreditnya. Kalau tidak berhasil, saya akan menyalahkan JD," ujar Trump sambil tertawa.

Ia bahkan melontarkan candaan lain kepada Vance.

"Kamu harus berhati-hati, JD. Dia bisa saja memutar balik pesawatnya dan pergi dari sini," kata Trump.

Pernyataan Trump muncul ketika rincian awal MoU AS-Iran mulai diungkap kepada media oleh seorang pejabat senior AS.

Dokumen tersebut disebut memuat beberapa poin penting, di antaranya penghentian segera operasi militer Israel di Lebanon, pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya oleh Iran selama sedikitnya 60 hari, serta kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan persediaan uranium yang telah diperkaya milik Teheran.

Namun, seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa Washington tidak melihat kebutuhan mendesak untuk memasuki Iran dan mengambil uranium tersebut.

Menurutnya, material nuklir itu masih terkubur akibat keberhasilan operasi militer AS yang dikenal sebagai "Operation Midnight Hammer", yakni serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

"Karena keberhasilan Midnight Hammer, material itu terkubur sangat dalam," kata pejabat tersebut.

Pernyataan itu dinilai menarik karena tampak bertolak belakang dengan narasi yang selama ini dibangun Trump.

Sejak meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Trump berulang kali menyatakan bahwa ancaman pengembangan senjata nuklir Iran menjadi alasan utama Washington melakukan aksi militer.

Dalam pidato saat mengumumkan dimulainya perang, Trump menuduh Iran berusaha membangun kembali program nuklir dan mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam sekutu-sekutu AS di Eropa maupun wilayah Amerika Serikat.

Kini, meski kesepakatan damai mulai terbentuk, Trump tampaknya masih berhati-hati untuk mengaitkan nama dan reputasi politiknya secara langsung dengan MoU tersebut.

Baca Juga: 'Kami Tidak Punya Uang,' Amerika Tak Akan Gelontorkan Ratusan Miliar Dolar ke Iran

Sikap itu pula yang menjadi alasan mengapa Presiden AS belum memastikan kehadirannya dalam seremoni penandatanganan dan membuka peluang bagi JD Vance untuk tampil sebagai wakil Washington dalam momen bersejarah tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar