Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Di sisi lain, kebutuhan energi PLN terus meningkat. Total beban bahan bakar dan pembelian tenaga listrik mencapai Rp393,82 triliun sepanjang 2025 atau naik Rp35,90 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp357,92 triliun.
Kenaikan terbesar berasal dari biaya gas alam dan bahan bakar minyak (BBM), sementara biaya batu bara naik lebih terbatas.
Menurut Andry, tekanan keuangan PLN pada akhirnya juga dirasakan oleh para pemasok energi, khususnya penambang batu bara yang selama ini memasok kebutuhan pembangkit listrik.
"Penambang yang memasok PLN menanggung tekanan juga. Di sisi harga mereka sudah menjual pada harga DMO yang menekan margin. Di sisi pembayaran, mereka menghadapi risiko tagihan yang dibayar lebih lama karena kondisi kas PLN saat ini. Jadi mereka rugi di harga sekaligus menunggu lebih lama untuk dibayar," ujarnya.
Kondisi tersebut kata Andry berkelindan dengan kondisi kelistrikan saat ini yang tengah terjadi pemadaman bergilir di sejumlah wilayah di Tanah Air.
"Mereka (pemasok energi) sudah tidak pikir ulang untuk memasok ke PLN, tapi mereka sudah menolak kalo jual murah, makannya dia tahan pasokan ke PLN, (karena) sudah boncos Akhirnya mati tuh listrik karena harus giliran, endingnya pompa air di rumah saya konslet dan saya harus ganti," tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: