Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Selain itu, kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) masih mencapai Rp2.576 triliun atau sekitar 22,41% dari total plafon kredit.
“Ini memberi ruang bagi bank untuk tetap menyalurkan kredit, tetapi kualitas penyaluran harus dijaga karena kenaikan suku bunga biasanya berdampak tertunda terhadap kemampuan bayar debitur,” tambah Josua.
Josua menekankan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas rupiah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada BI. Menurutnya, kebijakan fiskal yang kredibel juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan pelonggaran kebijakan makroprudensial dinilai menjadi penyeimbang agar kenaikan suku bunga tidak terlalu menekan pertumbuhan kredit. Hingga pekan pertama Juni 2026, insentif likuiditas makroprudensial tercatat mencapai Rp418,1 triliun.
Baca Juga: BI Rate Diprediksi Sentuh 6% di Akhir Tahun 2026, Ini Penyebabnya
Ke depan, Josua memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% hingga akhir 2026 selama stabilitas rupiah terjaga dan tekanan eksternal tidak semakin memburuk.
“Kami memperkirakan BI-Rate bertahan di 5,75 persen sepanjang sisa 2026, dengan rupiah akhir tahun di kisaran Rp17.800–18.000 per dolar AS dan imbal hasil SBN 10 tahun di kisaran 7,2–7,4 persen,” tutur Josua.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: