Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ironi Panen Raya 2026, Beras Justru Menjadi Penyumbang Inflasi Rutin

Ironi Panen Raya 2026, Beras Justru Menjadi Penyumbang Inflasi Rutin Kredit Foto: Antara/Donny Aditra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Komoditas beras tanpa disadari telah menjelma menjadi penyumbang inflasi rutin selama lima bulan berturut-turut di tahun ini. Tren inflasi ini terus terjadi secara konsisten mulai dari bulan Januari hingga bulan Mei 2026.

​Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kondisi pasar saat ini sebagai sebuah ironi karena terjadi bertepatan dengan masa panen raya sepanjang Februari hingga Mei tahun ini. Dia mengatakan, produksi beras yang melimpah pada periode tersebut nyatanya gagal menekan laju kenaikan harga di pasaran.

"Sesuai hukum besi pasokan-permintaan, pasokan melimpah mestinya harga menjadi terkendali. Bahkan ada peluang harga beras turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyumbang deflasi. Tapi tahun ini tidak terjadi," jelas Khudori dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/6/2026).

​Narasi publik yang menyebutkan bahwa stabilitas beras terjaga dinilai oleh Khudori sebagai pernyataan yang separuh benar. Menurut dia, fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga komoditas ini stabil pada level yang tinggi dan terus merangkak naik.

"Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik. Dan yang benar juga, adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama," katanya.

​Lebih lanjut, Khudori mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang mengonfirmasi tren ini melalui rilis data inflasi pada tanggal 2 Juni lalu. Data tersebut merinci kenaikan harga dari April ke Mei pada tingkat penggilingan, grosir, maupun pengecer.

​Harga beras di tingkat penggilingan tercatat mengalami kenaikan tahunan paling besar yang mencapai angka 8,1 persen. Sementara itu, tingkat grosir dan eceran masing-masing menanggung lonjakan harga tahunan sebesar 6,11 persen serta 4,55 persen.

"Pertama, meskipun persentase kenaikannya kecil, kalau pada periode yang sama harga-harga komoditas pangan lain juga naik daya beli warga miskin/rentan akan terpukul. Termasuk mereka yang menyemut atau berada hanya sedikit di atas garis kemiskinan," jelas Khudori.

"Kedua, harga beras memang sudah tinggi. Kalau harganya merangkak tentu kenaikannya tidak besar lagi," sambung dia.

Sebelumnya, pemerintah mengakui harga beras belum menunjukkan penurunan signifikan meski stok beras nasional yang tersimpan di Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga beras tidak selalu bergerak sesuai teori permintaan dan penawaran (supply-demand). Menurut dia, melimpahnya stok belum otomatis membuat harga turun di tingkat konsumen.

"Kalau teori ekonomi, ketika stok banyak harusnya harga turun. Tetapi untuk beras tidak selalu demikian," kata Suwandi dalam konferensi pers pemerintah, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: Ditopang Sektor Ritel dan Industri, Beras Fortifikasi Siap Masuki Pasar Komersial

Baca Juga: Prabowo Ungkap Pernah Tolak Impor Beras, Singgung Pembelaan ke Petani

Baca Juga: BPS Catat Inflasi Tahunan RI Capai 3,08% pada Mei 2026

Ia menjelaskan salah satu penyebabnya adalah panjangnya rantai distribusi beras dari produsen hingga konsumen. Dalam praktiknya, beras dapat melewati tujuh hingga sembilan mata rantai perdagangan sebelum sampai ke masyarakat.

"Karena mata rantainya panjang. Ada tujuh sampai sembilan mata rantai perdagangan. Setiap mata rantai mengambil margin," ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: