Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ditopang Sektor Ritel dan Industri, Beras Fortifikasi Siap Masuki Pasar Komersial

Ditopang Sektor Ritel dan Industri, Beras Fortifikasi Siap Masuki Pasar Komersial Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar beras fortifikasi di Indonesia dinilai tengah memasuki fase pertumbuhan baru yang krusial. Komoditas yang semula dipandang sebagai program kesehatan masyarakat (public health) kini bertransformasi menjadi sektor ekonomi potensial yang mampu mentransformasi industri penggilingan, memperkuat rantai pasok pertanian, serta membuka pasar di tingkat nasional.

Pelaku usaha ritel, industri, hingga pelaku usaha penggilingan meyakini ekosistem beras yang diperkaya gizi ini telah memiliki fundamental kokoh untuk masuk ke pasar komersial. Sejumlah tantangan yang tersisa saat ini mencakup percepatan adopsi konsumen, perluasan skala distribusi regional, serta penciptaan struktur harga yang lebih efisien.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Dasep Suryanto menyatakan sektor ritel siap mendukung ekspansi pasar komersial tersebut, terlepas dari adanya disparitas harga yang saat ini masih memfragmentasi pasar.

"Kami di lini hilir melihat adanya kebingungan pasar karena belum tersedianya referensi harga yang jelas. Di sisi lain, kita ingin menghadirkan produk bergizi yang tetap terjangkau bagi konsumen," ujar Dasep di sela-sela diskusi panel yang bertajuk "Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market" di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Saat ini, beras fortifikasi atau beras yang diperkaya gizi di jaringan ritel modern mengusung harga hampir 20-30% di atas harga beras reguler. Dasep mengingatkan bahwa tanpa adanya standarisasi harga dan efisiensi jalur distribusi, kesenjangan harga yang lebar ini berisiko memicu distorsi pasar.

Untuk menstabilkan pasar, APRINDO menekankan pentingnya implementasi tiga strategi utama, yakni kejelasan dan kepastian regulasi, efisiensi distribusi langsung dari penggilingan atau RMU ke peritel, serta edukasi konsumen secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan jaringan ritel nasional.

Dengan kekuatan jaringan ritel yang tersebar di seluruh Indonesia, APRINDO siap mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjembatani kesenjangan informasi tersebut. “Tujuan akhirnya adalah menjamin akses masyarakat terhadap beras bergizi dengan harga terjangkau. Oleh karena itu, aspek regulasi, distribusi, dan edukasi harus berjalan secara bersamaan,” tegas Dasep.

Baca Juga: Amran Klaim Era Prabowo Cetak Rekor Baru Pertanian, dari Harga Pupuk Turun hingga Produksi Beras

Industrialisasi Sektor Hulu

Dari sisi produksi, infrastruktur industri yang menopang komoditas beras fortifikasi menunjukkan tren pertumbuhan. Komisaris PT Pangan Nabati Umbi Nusantara Mirza Muttaqien mengonfirmasi bahwa sektor ini telah melewati ambang batas menuju fase industrialisasi yang matang.

"Pada prinsipnya, berapa pun harga beras yang beredar di pasar, terdapat ruang bagi peningkatan nilai tambah sekitar Rp1.000 per kilogram," ungkap Mirza merujuk pada biaya marjinal untuk penambahan mikronutrien esensial.

"Namun, kalkulasi ini sangat bergantung pada efisiensi produksi dan tingkat utilisasi kapasitas pabrik," tambahnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman

Tag Terkait:

Berita Terkait