Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kenapa Rupiah Bisa Naik atau Turun? Begini Cara Nilai Tukar Ditentukan

Kenapa Rupiah Bisa Naik atau Turun? Begini Cara Nilai Tukar Ditentukan Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K

Fundamental Ekonomi Jadi Penopang

Junanto mengatakan stabilitas rupiah pada akhirnya sangat bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi suatu negara. Karena itu, BI selalu mencermati sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa.

“Nah, yang dimaksud dengan fundamental ini adalah pentingnya kita melihat indikator-indikator ekonomi suatu negara. Antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, ataupun cadangan devisa,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi fundamental Indonesia saat ini masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5 persen, inflasi tetap berada dalam sasaran BI sebesar 2,5±1 persen, sementara cadangan devisa mencapai sekitar enam bulan impor atau jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat di kisaran 5 persen. Demikian pula dengan inflasi kita yang masih berada pada kisaran target 2,5 plus minus 1 persen. Sementara cadangan devisa Indonesia juga relatif aman karena berada di kisaran enam bulan impor,” katanya.

Instrumen BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter, mulai dari penetapan BI-Rate, intervensi di pasar valuta asing spot maupun forward, transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga menjalankan berbagai instrumen moneter yang mendukung masuknya investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik agar pasokan devisa tetap terjaga.

Menurut Junanto, tujuan utama kebijakan tersebut bukan mempertahankan rupiah pada level tertentu, melainkan mengendalikan volatilitas agar pergerakan nilai tukar tetap stabil dan mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

“Dengan demikian, tujuannya jelas, yaitu BI mengelola volatilitas agar rupiah tidak bergerak terlalu tajam atau bergejolak. Hal yang dijaga Bank Indonesia bukan rupiah harus berada pada level tertentu, tetapi bagaimana agar gerak rupiah ini stabil, terkendali, dan yang terpenting sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: 'Tak Bisa dalam Sebulan,' Prabowo Butuh Kesempatan untuk Stabilkan Rupiah dan IHSG

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik Telat, Apindo Sebut Pengusaha Terjepit Depresiasi Rupiah dan Pajak Tinggi

Junanto menambahkan, menjaga stabilitas rupiah juga membutuhkan dukungan sektor riil melalui peningkatan ekspor, pengurangan ketergantungan impor, penggunaan produk dalam negeri, pengelolaan utang luar negeri secara bijaksana, serta konsistensi kebijakan yang mampu menjaga kepercayaan investor.

“Pada akhirnya, nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang kita lihat di layar atau di berita. Di balik angka itu ada kebijakan, ada aktivitas ekonomi, dan ada pilihan-pilihan kita setiap hari. Karena menjaga rupiah tetap stabil adalah kerja kita bersama,” pungkasnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri