Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kenapa Rupiah Bisa Naik atau Turun? Begini Cara Nilai Tukar Ditentukan

Kenapa Rupiah Bisa Naik atau Turun? Begini Cara Nilai Tukar Ditentukan Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bergerak secara acak. Bank Indonesia (BI) menjelaskan pergerakan rupiah ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing di pasar yang dipengaruhi berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perdagangan internasional, pembayaran utang luar negeri, arus investasi asing, hingga sentimen pelaku pasar global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan mengatakan nilai tukar pada dasarnya merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain. Karena mengikuti mekanisme pasar, nilainya dapat berubah setiap saat sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan mata uang tersebut.

“Jadi gini sobat, nilai tukar itu sederhananya adalah harga dari sebuah mata uang dibandingkan mata uang negara lain. Misalnya, rupiah dibandingkan dengan dolar Amerika. Nah, nilai tukar ditentukan oleh kebutuhan dan ketersediaan antara dua mata uang,” ujar Junanto, dalam video edukasi yang diunggah di kanal YouTube resmi Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).  

Ia menjelaskan, ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokannya terbatas, nilai dolar akan menguat sehingga rupiah melemah. Sebaliknya, apabila pasokan dolar bertambah di dalam negeri, rupiah memiliki ruang untuk menguat atau setidaknya tetap stabil.

“Kalau makin banyak orang atau perusahaan membutuhkan dolar, sementara pasokannya terbatas, harga dolar akan naik. Sebaliknya begitu pula, sehingga ada mata uang yang menguat dan ada yang melemah,” katanya.

Empat Faktor Penggerak Nilai Tukar

Menurut BI, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Faktor pertama adalah perdagangan internasional. Saat Indonesia mengekspor barang dan jasa, pembayaran umumnya diterima dalam bentuk dolar AS sehingga devisa masuk ke dalam negeri dan membantu menjaga stabilitas rupiah. Sebaliknya, peningkatan impor membuat pelaku usaha membutuhkan lebih banyak dolar untuk melakukan pembayaran sehingga permintaan valuta asing meningkat.

“Ketika Indonesia menjual barang dan jasa ke luar negeri, akan ada dolar yang masuk ke Indonesia. Sebaliknya, saat Indonesia banyak melakukan impor, pelaku usaha lebih membutuhkan dolar untuk membayar barang dari luar negeri. Akibatnya, permintaan dolar bisa naik dan rupiah bisa turun nilainya,” ujar Junanto.

Faktor kedua berasal dari kewajiban pembayaran kepada pihak luar negeri, baik berupa utang, bunga pinjaman, maupun dividen kepada investor asing. Ketika pembayaran jatuh tempo, kebutuhan dolar meningkat sehingga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

“Nah, Indonesia ini kan punya beberapa kewajiban pembayaran pada pihak luar negeri. Ketika pembayaran tersebut jatuh tempo, kebutuhan dolar atau mata uang asing bisa meningkat dan akan memengaruhi pergerakan rupiah,” katanya.

Selanjutnya, arus investasi asing juga menjadi penentu penting. Masuknya modal asing ke pasar saham, obligasi, maupun investasi langsung akan meningkatkan pasokan devisa sehingga mendukung penguatan rupiah. Sebaliknya, ketika dana asing keluar dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat.

“Ketika ada dana investor asing masuk ke Indonesia untuk beli saham, obligasi, atau surat berharga, saat itu akan terjadi penguatan rupiah. Begitu pula sebaliknya,” ujar Junanto.

Baca Juga: Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter Dorong Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG

Baca Juga: Rupiah Terkapar, Nasabah Kaya Mulai Alihkan Aset ke Dolar AS

Selain faktor fundamental tersebut, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar global. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dunia, investor biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman, salah satunya dolar Amerika Serikat.

“Kadang pergerakan rupiah itu bukan semata karena kondisi Indonesia saja, tetapi karena adanya faktor sentimen. Investor global biasanya mencari aset yang dianggap paling aman, dan dolar AS sering menjadi tujuan utama. Akibatnya hampir semua mata uang mengalami tekanan, termasuk rupiah,” katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri