- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
ReforMiner Sebut Harga LNG Bisa Ditekan ke US$9/MMBtu lewat Subsidi Silang
Kredit Foto: PGN
Founder & Advisor ReforMiner Institute (Research Institute for Mining and Energy Economics), Pri Agung Rakhmanto, mengatakan beban harga gas industri yang beral dari pasokan LNG dapat ditekan ke kisaran US$9–10 per MMBtu melalui skema subsidi silang fiskal dengan memanfaatkan alokasi dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hulu migas.
Menurut Pri Agung, skema tersebut dapat menjadi opsi untuk mengurangi selisih antara harga gas berbasis LNG yang saat ini berada di atas US$20 per MMBtu dengan tingkat harga yang masih dapat ditanggung oleh industri.
"Pemberlakuan Subsidi Silang Fiskal: Menambal selisih harga gas LNG (USD20+) ke batas aman daya tahan industri (USD9–10) menggunakan alokasi dana PNBP Hulu Migas, khusus untuk industri padat karya yang berkomitmen tidak melakukan PHK. Kebijakan ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan negara dan keseimbangan harga pasar gas (LNG) global dan regional," ujar Pri Agung kepada Warta Ekonomi, Senin (29/6/2026).
Pri Agung menjelaskan, lonjakan harga gas industri hingga menembus di atas US$20 per MMBtu tidak terlepas dari perubahan struktur pasokan gas nasional. Penurunan produksi gas pipa domestik di wilayah barat Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Sumatra, membuat sebagian kebutuhan industri harus dipenuhi melalui LNG.
"Lonjakan harga gas industri hingga di atas USD20/MMBtu merupakan konsekuensi langsung dari decline (penurunan) produksi gas pipa domestik di wilayah barat Indonesia (khususnya Jawa Barat dan Sumatra). Sehingga pemenuhan pasokan gas terpaksa dialihkan menggunakan regasifikasi LNG yang dikirim dari wilayah timur (Papua, Sulawesi, Kalimantan), yang secara struktural membawa beban biaya logistik lebih tinggi," katanya.
Menurut dia, peralihan dari gas pipa menuju LNG menyebabkan peningkatan biaya dalam rantai pasok, mulai dari pengangkutan, regasifikasi, hingga penyaluran ke kawasan industri.
Karena itu, Pri Agung menilai diperlukan kombinasi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang untuk menjaga daya saing industri. Selain skema subsidi silang fiskal, ia mendorong percepatan pembangunan infrastruktur gas nasional, termasuk penyelesaian jaringan pipa transmisi Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap II dan Dumai–Sei Mangkei.
Menurutnya, penguatan jaringan pipa dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan LNG yang memiliki struktur biaya lebih tinggi karena gas dari wilayah yang memiliki ketersediaan dapat dialirkan langsung ke pusat industri.
Selain itu, Pri Agung juga mengusulkan pembentukan agregator gas nasional untuk mengonsolidasikan pasokan dari berbagai sumber hulu. Melalui mekanisme tersebut, harga gas dapat dikelola dengan formula yang lebih stabil sehingga memberikan kepastian bagi industri.
Baca Juga: ReforMiner Sebut Harga LNG Bisa Ditekan ke US$9/MMBtu lewat Subsidi Silang
Baca Juga: Pemerintah Revisi Kepmen HGBT dan Kaji Harga LNG untuk Ringankan Beban Industri
"Pembentukan agregator gas berfungsi memutus rantai harga tinggi tersebut dengan cara bertindak sebagai 'badan penyangga' tunggal atau terpusat. Agregator gas memiliki kewenangan untuk membeli gas dari berbagai sumber hulu dengan harga yang bervariasi. Seluruh pasokan tersebut disatukan (pooled) lalu formulasinya dirata-rata. Hasilnya, pelaku industri nasional akan mendapatkan level harga yang jauh lebih kompetitif dan lebih dapat diprediksi," jelasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: