Kredit Foto: Akun X @indepenSumatera
Filsuf politik Rocky Gerung mengkritik langkah mantan Ketua BEM, Tiyo Ardianto, yang dinilainya keliru dalam melakukan abstraksi politik saat menyampaikan kritik kepada pemerintah.
Dalam forum itu, Rocky juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat dilaporkan ke kepolisian karena dituding menghasut Tiyo.
"Bodoh dia, saya bilang. Padahal konteksnya saya bilang (waktu) di UI itu, Tiyo, naikkan oktafmu. Tapi apa yang dia bikin? Prabowo dijadiin kucing," ujar Rocky.
Menurut Rocky, tindakan Tiyo menurunkan kualitas kritik yang seharusnya dibangun di atas argumentasi intelektual menjadi sekadar aksi simbolik yang kehilangan substansi.
Ia menilai penggambaran tokoh politik sebagai seekor kucing bukanlah bentuk peningkatan kualitas kritik.
Rocky mengatakan Tiyo memiliki semangat untuk menyampaikan kritik dan mendapat respons positif dari publik. Namun, menurutnya, kritik tersebut tidak dibarengi dengan gagasan maupun landasan ideologis yang kuat.
"Itu bukan naik oktaf, itu turun oktaf. Orang tepuk tangan, posisinya betul. Tetapi ketiadaan pikiran, ketiadaan gagasan, ketiadaan ideologi membuat orang jadi sarkas, slapstick. Bukan itu bunyi pikiran intelektual," tegas Rocky.
Untuk menjelaskan pandangannya mengenai abstraksi politik, Rocky membandingkan kasus tersebut dengan kritik yang pernah ia lontarkan kepada mantan Presiden Joko Widodo menggunakan istilah "bajingan tolol".
Menurut Rocky, pernyataan tersebut bukan sekadar sarkasme, melainkan kesimpulan yang, menurutnya, dapat dipertanggungjawabkan secara akademis berdasarkan kebijakan pemerintah saat itu.
"Saya bisa pertanggungjawabkan ucapan saya secara akademis, secara sistematis. Karena Jokowi bikin Omnibus Law, ketololannya ada di situ," ujar Rocky.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: