Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Pertanyakan Apa yang Dibanggakan Menjadi Indonesia: 'Apa Selain Negara ini Belum Hancur?'

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Pertanyakan Apa yang Dibanggakan Menjadi Indonesia: 'Apa Selain Negara ini Belum Hancur?' Kredit Foto: Akun X @indepenSumatera
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menyampaikan kritik terhadap kondisi bangsa dengan mempertanyakan hal yang masih dapat dibanggakan dari Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi yang membahas identitas nasional dan arah pembangunan Indonesia.

Menurut Tiyo, masyarakat Indonesia seharusnya tetap memiliki rasa bangga terhadap tanah air. Namun, ia menilai krisis identitas bangsa membuat rasa bangga tersebut semakin memudar.

"Sekecewa-kecewanya kita, harusnya kita bangga terhadap Indonesia. Tapi hari ini, Indonesia ini apa yang mau dibanggakan? Selain fakta bahwa kita masih hidup dan negara ini belum hancur?" ujar Tiyo.

Dalam pemaparannya, Tiyo membagi konstelasi global ke dalam tiga kategori, yakni negara CEO, negara mandor, dan negara buruh.

Ia menjelaskan negara CEO merupakan negara yang menguasai modal dan teknologi, sedangkan negara mandor berperan sebagai pendukung kebutuhan negara maju.

Sementara itu, negara buruh merupakan negara yang memasok tenaga kerja dan bahan mentah tanpa memperoleh nilai tambah yang signifikan.

"Negara buruh adalah negara yang diminta bekerja keras, diminta memasok bahan mentah, tetapi ya tidak dapat apa-apa. Indonesia ada di posisi ini. Bagaimana kita bisa bangga jika mentalitas kita masih feodal dan kolonial?" kata Tiyo.

Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan budaya feodal dan warisan kolonial yang menurutnya masih memengaruhi pola pikir masyarakat maupun penyelenggaraan negara.

Tiyo berpendapat Indonesia tidak akan mencapai kemajuan apabila terus berupaya meniru negara lain, termasuk Amerika Serikat. Menurutnya, kemajuan hanya dapat dicapai jika Indonesia membangun arah pembangunan berdasarkan karakter dan sejarahnya sendiri.

"Indonesia itu akan maju kalau dia jadi dirinya sendiri. Kalau Indonesia berhasrat pengin jadi Amerika Serikat (AS), sejak memiliki hasrat jadi AS itu, Indonesia pasti tidak akan maju," ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat