Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Golkar ke NU: Jangan Sibuk Cari Pemenang Pilpres, Nasihati Negara Saja!

Golkar ke NU: Jangan Sibuk Cari Pemenang Pilpres, Nasihati Negara Saja! Kredit Foto: Golkar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peran Nahdlatul Ulama dalam dinamika politik nasional kembali menjadi sorotan. Kali ini, suara datang dari internal Partai Golkar yang berharap organisasi Islam terbesar di Indonesia itu lebih fokus mengawal arah bangsa daripada larut dalam politik praktis.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, menilai NU memiliki posisi strategis sebagai kekuatan masyarakat sipil yang mampu menjadi penyeimbang sekaligus pemberi nasihat bagi negara. Karena itu, ia meminta NU tidak terlalu disibukkan dengan urusan siapa yang menang dalam pemilu maupun pemilihan presiden.

“Dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima. NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres. NU tidak perlu khawatir tidak dapat berkat politik karena justru NU makin diperhitungkan kalau bermain di politik besar,” kata Sarmuji.

Ia pun mengajak NU mulai menjaga jarak dari apa yang disebutnya sebagai "politik kecil" atau politik praktis. Sebaliknya, organisasi tersebut diharapkan semakin aktif mengambil peran dalam "politik besar" yang berorientasi pada kepentingan bangsa.

Baca Juga: Wow! Survei Ungkap 74,2% Masyarakat Percaya pada Pemerintahan Prabowo

"Suka atau tidak suka, NU itu lekat dengan politik, sangat lekat. Tetapi sebagai orang NU yang tidak berada di partai yang identik dengan NU, saya berharap kelekatan NU dengan politik kecil itu dikurangi, sebaliknya keterlibatan NU di politik besar harus makin diperkuat," ujarnya.

Sarmuji menjelaskan bahwa politik kecil dan politik besar memiliki perbedaan mendasar. Menurutnya, apabila NU lebih banyak terlibat menjadi tim sukses atau sibuk menentukan kandidat yang akan memenangkan pemilihan presiden, maka organisasi tersebut sedang terseret ke dalam politik kecil.

Sebaliknya, apabila NU lebih fokus mengawal agar proses pemilu berlangsung berkualitas sehingga suara rakyat benar-benar tercermin secara adil, maka organisasi itu justru memainkan peran penting dalam politik kebangsaan.

"NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, dengan memosisikan diri sebagai civil society yang bisa menasihati negara. Ini yang saat ini sangat kurang, civil society yang mampu menasihati negara, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU," jelas Sarmuji.

Baca Juga: Pemerintah Buka Suara soal Asisten Raffi hingga Relawan Prabowo Jadi Komisaris BUMN

Ia menilai, dengan memperkuat peran sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan pemberi masukan kepada pemerintah, NU justru akan semakin diperhitungkan dalam kehidupan bernegara tanpa harus terjebak dalam perebutan kekuasaan praktis.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri