Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dibongkar Eks Komandan Garda Revolusi, Iran Kini Punya Dua Tujuan Besar usai Kematian Ali Khamenei

Dibongkar Eks Komandan Garda Revolusi, Iran Kini Punya Dua Tujuan Besar usai Kematian Ali Khamenei Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohsen Rezaei mengungkap arah baru strategi negaranya setelah wafatnya sosok dari Eks Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Menurutnya, Teheran kini memiliki dua tujuan utama yang akan menjadi fokus perjuangan negara tersebut dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.

Sebagai Penasihat Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang menjadi prioritas negaranya adalah melakukan pembalasan strategis dengan mengakhiri kehadiran dari Amerika Serikat di Timur Tengah.

Baca Juga: Demi Keuntungan, Iran Diam-diam Sengaja Pancing Kemarahan Trump: Mereka Sedang Memperolok Amerika

Menurut Rezaei, tujuan tersebut dipandang penting agar pemerintahannya dapat melanjutkan agenda pembangunan dan menjaga kepentingan strategisnya di kawasan.

"Pembalasan strategis harus benar-benar diwujudkan agar jalan menuju kemajuan kami tetap terbuka," ujar Mohsen Rezaei, dikutip Rabu (8/7).

Selain itu, Iran juga memiliki tujuan kedua, yakni memastikan datangnya pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian dari Ayatollah Ali Khamenei.

Rezaei secara terbuka menyebut dua tokoh yang menurutnya harus dimintai pertanggungjawaban adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

"Selain itu, dua orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan pemimpin tidak boleh lolos dari pembalasan," tegasnya.

Rezaei juga menyoroti besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi penghormatan terakhir dan pemakaman dari Ayatollah Ali Khamenei. Menurutnya, jutaan warga yang turun ke jalan bukan sekadar menghadiri upacara duka, melainkan menunjukkan kekuatan gerakan nasional yang terus berkembang.

Ia menilai prosesi tersebut merupakan kelanjutan dari semangat perlawanan rakyat terhadap berbagai tekanan dari pihak luar yang kini berkembang menjadi gerakan politik dan ideologis.

"Dengan kata lain, pemikiran dan jalan perjuangan kita telah melampaui keberadaan fisik dan kini tertanam dalam masyarakat serta rakyat, sehingga semakin mempersatukan mereka," kata Rezaei.

Menurut mantan komandan itu, besarnya jumlah pelayat juga membantah anggapan pihak-pihak yang disebutnya sebagai musuh dari Iran. Ia mengklaim banyak pihak memperkirakan partisipasi masyarakat akan rendah, tetapi kenyataannya jutaan warga justru memenuhi berbagai kota untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Rezaei menilai tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa semangat perlawanan tidak melemah meski kehilangan pemimpin tertingginya. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah.

Baca Juga: Bukan Nasib Buruk, Ada Faktor Eksternal di Balik Kemenangan Argentina atas Mesir di Piala Dunia 2026

Pernyataan Rezaei memberikan gambaran bahwa kebijakan strategis negaranya kini tidak hanya berfokus pada respons jangka pendek, tetapi juga diarahkan pada agenda jangka panjang yang menurutnya mencakup pengurangan pengaruh dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar