Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tantang Dominasi EV China, Honda Targetkan Kuasai Pasar Mobil Hybrid dengan Teknologi e:HEV

Tantang Dominasi EV China, Honda Targetkan Kuasai Pasar Mobil Hybrid dengan Teknologi e:HEV Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Persaingan industri otomotif di Asia Tenggara semakin ketat. Honda Automobile (Thailand) memperkuat strategi bisnisnya dengan menjadikan mobil Hybrid Electric Vehicle (HEV) sebagai andalan untuk menghadapi dominasi kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) asal China di pasar Thailand.

Produsen otomotif Jepang tersebut menargetkan sekitar 90 persen dari total penjualan mobilnya di Thailand pada 2029 berasal dari model HEV. Strategi ini menjadi bagian dari upaya Honda mempertahankan pangsa pasar di tengah pesatnya pertumbuhan produsen mobil listrik China.

Honda mengandalkan teknologi e:HEV yang mengombinasikan motor listrik dengan mesin bensin. Sistem tersebut dapat berpindah secara otomatis antara menggerakkan roda dan menghasilkan tenaga listrik sesuai kondisi berkendara.

Presiden dan CEO Honda Automobile (Thailand), Koji Iwanami, mengatakan teknologi e:HEV menawarkan efisiensi bahan bakar yang tinggi tanpa memerlukan pengisian daya dari luar karena baterai dapat terisi secara otomatis saat kendaraan digunakan.

"Honda memprediksi e:HEV akan mampu mengungguli BEV. Mobil-mobil hybrid ini akan membantu pabrikan mobil Jepang merebut kembali pangsa pasar di Thailand dari cengkeraman BEV China," ujar Iwanami.

Honda juga baru meluncurkan empat varian terbaru Honda City di Thailand, yakni e:HEV RS, e:HEV SV, e:HEV V, dan VTEC Turbo. Dari target penjualan 40.000 unit dalam setahun, sebanyak 31.000 unit telah terjual selama periode Januari hingga Mei 2026.

Secara keseluruhan, Honda menargetkan penjualan 76.000 unit kendaraan di Thailand sepanjang 2026, di tengah proyeksi pasar otomotif nasional yang diperkirakan mencapai 660.000 unit.

Honda Pangkas Biaya Produksi Hybrid

Untuk meningkatkan daya saing terhadap produsen China, Honda berencana memangkas biaya produksi sistem hybrid generasi terbaru lebih dari 30 persen dibandingkan generasi sebelumnya.

Langkah efisiensi tersebut diharapkan membuat harga mobil hybrid semakin kompetitif dan menjadi pilihan bagi konsumen yang belum siap beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik murni.

"Harga mobil Honda akan menjadi lebih menarik bagi konsumen yang menginginkan teknologi baru namun belum siap beralih ke BEV," kata Iwanami.

Selain itu, Honda juga mendorong pemerintah Thailand memperketat aturan penggunaan komponen lokal bagi produsen BEV asing. Perusahaan mengusulkan agar kendaraan listrik murni memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang setara dengan mobil bermesin konvensional, sehingga sebagian besar komponen dipasok oleh industri lokal.

Thailand Tetap Jadi Basis Produksi Honda

Honda menegaskan Thailand akan tetap menjadi basis produksi utama perusahaan di Asia Tenggara. Pabrik Honda di Provinsi Prachinburi yang dibangun dengan investasi sekitar 17 miliar baht akan terus menjadi pusat manufaktur sekaligus ekspor.

Chief Officer Sales and Services Honda Thailand, Shun Kuroda, mengatakan perusahaan masih memfokuskan pengembangan pada kendaraan segmen B karena dinilai paling sesuai dengan kebutuhan konsumen Thailand dari sisi harga dan efisiensi.

Meski demikian, Honda memastikan tetap melanjutkan investasi dalam pengembangan teknologi BEV sebagai bagian dari strategi elektrifikasi jangka panjang.

Honda memproyeksikan komposisi pasar otomotif Thailand pada 2029 akan didominasi kendaraan hybrid dengan pangsa sekitar 52 persen. Sementara itu, kendaraan listrik murni diperkirakan menguasai 33 persen pasar, mobil bermesin pembakaran internal (ICE) sekitar 13 persen, dan teknologi lainnya sekitar 2 persen.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat