Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Baru Jalan, Smelter Amman Bakal Mati Lagi Akhir Tahun Ini

Baru Jalan, Smelter Amman Bakal Mati Lagi Akhir Tahun Ini Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kembali menyiapkan langkah penghentian sementara operasional smelter tembaga miliknya di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada akhir tahun ini atau awal 2027.

Rencana ini menjadi sorotan. Pasalnya, fasilitas pemurnian senilai US$1,4 miliar di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut baru saja merangkak pulih setelah dihantam rentetan kendala teknis pasca-diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada September 2024.

Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, mengatakan penghentian sementara tersebut diperlukan untuk mengganti sejumlah peralatan yang belum dapat diganti pada tahap awal pengoperasian.

"Kami memperkirakan akan kembali melakukan shutdown sekitar Desember atau Januari untuk mengganti beberapa peralatan yang belum dapat diganti dalam empat bulan pertama," ujar Rachmat dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).

Secara desain, smelter yang mengadopsi double flash technology ini dirancang tangguh dengan kapasitas input 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun untuk menghasilkan 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, dan 55 ton perak.

Namun, fase awal operasi terhambat kendala teknis. Memasuki tahap commissioning dan ramp-up pada awal 2025, terjadi kebocoran pada sistem acid cooling serta insiden kebakaran ringan di area flash smelting furnace.

"Peristiwa tersebut terjadi pada awal tahun 2025 sehingga menghambat produksi dan membutuhkan proses perbaikan yang cukup panjang," ujar Rachmat.

Akibat gangguan tersebut, Amman mengajukan relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada pemerintah dan memperoleh rekomendasi ekspor dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 480.000 metrik ton kering (dmt) yang berlaku selama enam bulan mulai 31 Oktober 2025.

Setelah proses perbaikan, smelter mulai kembali beroperasi. Rachmat mengatakan sejak April 2026 kegiatan operasi berjalan dan proses ramp-up berlangsung dengan baik.

Baca Juga: MIND ID Soroti Tantangan Hilirisasi Mineral, Pasar Domestik Harus Siap Menyerap

Baca Juga: BRMS Ambil Alih Citra Palu Minerals Rp164 Miliar dari BUMI

"Pada sekitar Juni 2026, kami telah mampu memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," ujar Rachmat.

Ia mengatakan kapasitas maksimum atau mendekati maksimum telah tercapai dalam beberapa minggu terakhir.

"Saat ini, operasi telah berjalan dengan kapasitas penuh dan mampu menampung seluruh produksi dari tambang," kata Rachmat.

Meski dibayangi rencana shutdown, Amman tetap mematok target produksi hingga akhir tahun 2026:

  • Katoda Tembaga: 162.000 ton
  • Emas: 16 ton
  • Perak: 45 ton
  • Selenium: 91 ton
  • Telurium: 1,96 ton
  • Asam Sulfat: 572.000 ton

Rachmat menegaskan, volume pengolahan ditargetkan terus meningkat dalam tiga tahun ke depan seiring rencana kenaikan aktivitas pengerukan bijih di tambang Batu Hijau.

"Mulai tahun depan kami akan lebih banyak mengambil dan memproses bijih dalam kegiatan penambangan," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra