Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ancaman Siber Bergeser ke Perangkat Seluler, Mendorong Organisasi untuk Memperkuat Keamanan Aplikasi

Ancaman Siber Bergeser ke Perangkat Seluler, Mendorong Organisasi untuk Memperkuat Keamanan Aplikasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perangkat seluler telah menjadi pusat kehidupan digital modern. Mulai dari transaksi perbankan dan pembayaran digital hingga belanja online dan akses ke layanan publik, konsumen semakin bergantung pada aplikasi ponsel pintar untuk aktivitas sehari-hari mereka. Namun, ketergantungan yang meningkat ini juga menjadikan perangkat seluler sebagai salah satu target utama bagi penjahat siber.

Kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) sedang membentuk kembali lanskap ancaman siber. Serangan phishing tradisional seringkali dapat diidentifikasi karena tata bahasa yang buruk, kesalahan ejaan, atau desain yang tidak meyakinkan. Saat ini, AI memungkinkan penjahat siber untuk menghasilkan email phishing, pesan instan, dan situs web palsu yang sangat realistis, sehingga jauh lebih sulit bagi pengguna untuk membedakan komunikasi yang sah dari penipuan.

Menurut Choon Hong Chee, Kepala Saluran Konsumen (Head of Consumer Channel), Asia Pasifik di Kaspersky, penjahat siber semakin menargetkan perangkat seluler karena ponsel pintar telah menjadi gerbang menuju aset digital yang berharga.

"Indonesia mencerminkan tren regional yang lebih luas di seluruh Asia Tenggara, di mana penjahat siber semakin menargetkan pengguna seluler karena ponsel pintar telah menjadi gerbang utama menuju identitas digital, layanan keuangan, dan data pribadi," kata Chee kepada Warta Ekonomi, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya ketergantungan masyarakat pada perangkat seluler telah secara fundamental mengubah lanskap ancaman siber. Meskipun serangan dulunya terutama menargetkan komputer desktop dan jaringan perusahaan, ponsel pintar kini menjadi target yang sama menariknya bagi pelaku ancaman.

Kaspersky melaporkan bahwa serangan Trojan perbankan global yang menargetkan perangkat Android melonjak sebesar 196% sepanjang tahun 2024. Perusahaan keamanan siber tersebut juga mengidentifikasi varian baru Trojan Triada yang telah diinstal sebelumnya pada perangkat Android palsu yang diyakini telah didistribusikan melalui pengecer tidak resmi.

Di antara lebih dari 2.600 pengguna yang terdampak di seluruh dunia, Indonesia termasuk di antara negara-negara dengan jumlah korban tertinggi, yang menggarisbawahi bahwa perangkat seluler seharusnya tidak lagi hanya dipandang sebagai alat komunikasi.

Selain distribusi malware, penjahat siber semakin memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka. Kaspersky mengamati bahwa AI kini digunakan untuk membuat email phishing yang tampak lebih alami, mengembangkan situs web palsu yang sangat mirip dengan layanan yang sah, dan menghasilkan pesan penipuan yang sangat personal menggunakan informasi korban yang dikumpulkan dari sumber yang tersedia untuk umum. Perkembangan ini telah membuat serangan rekayasa sosial semakin canggih dan lebih sulit dideteksi, bahkan bagi pengguna yang melek digital.

Baca Juga: Kaspersky: Ancaman Siber di Asia Tenggara Makin Kompleks, Indonesia Catat Jutaan Serangan

"Perangkat seluler sekarang harus diperlakukan sebagai titik akhir yang lengkap, bukan hanya alat komunikasi sederhana. Organisasi perlu memperluas kontrol keamanan tingkat perusahaan ke lingkungan seluler, termasuk deteksi ancaman, manajemen perangkat seluler (MDM), dan program kesadaran pengguna," kata Chee.

Temuan terbaru Kaspersky untuk kuartal pertama tahun 2026 semakin menyoroti skala ancaman yang menargetkan perangkat seluler. Selama kuartal tersebut, perusahaan memblokir lebih dari 2,67 juta serangan yang melibatkan malware, adware, dan perangkat lunak seluler yang berpotensi tidak diinginkan.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman