Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ancaman Siber Bergeser ke Perangkat Seluler, Mendorong Organisasi untuk Memperkuat Keamanan Aplikasi

Ancaman Siber Bergeser ke Perangkat Seluler, Mendorong Organisasi untuk Memperkuat Keamanan Aplikasi Kredit Foto: Istimewa

Di antara ancaman yang terdeteksi, Trojan perbankan menyumbang bagian terbesar, mewakili 52,96% dari semua aplikasi berbahaya yang diidentifikasi. Kaspersky juga mendeteksi lebih dari 306.000 paket instalasi berbahaya, termasuk 162.275 paket yang terkait dengan Trojan perbankan seluler.

Perusahaan juga menemukan strain malware baru yang dikenal sebagai SparkCat, yang menyusup ke aplikasi yang tersedia melalui Google Play dan App Store Apple. Yang perlu diperhatikan, malware tersebut ditemukan tidak hanya di aplikasi yang mencurigakan tetapi juga di aplikasi yang tampak sah dan banyak digunakan oleh konsumen.

Phishing terus menjadi salah satu ancaman siber yang paling umum. Indonesia telah berulang kali diidentifikasi sebagai target kampanye phishing yang semakin canggih dan skema penipuan keuangan. Seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap teknologi AI, penyalahgunaan teknologi deepfake untuk memfasilitasi penipuan digital juga diperkirakan akan meningkat.

Menurut Chee, perkembangan ini menunjukkan bahwa ancaman siber semakin sulit dikenali oleh pengguna, sehingga perlindungan teknologi dan kesadaran keamanan siber sama pentingnya.

"Temuan kami juga menunjukkan bahwa rekayasa sosial tetap menjadi vektor infeksi utama, sehingga kesadaran keamanan siber sama pentingnya dengan kontrol keamanan teknis," tambahnya.

Meningkatnya adopsi AI oleh penjahat siber juga menunjukkan bahwa edukasi pengguna saja tidak lagi cukup. Organisasi harus memastikan bahwa layanan digital yang mereka berikan dirancang dengan standar keamanan yang kuat yang mengurangi risiko sebelum dapat berdampak pada pengguna akhir.

Tingkat penetrasi seluler yang tinggi dan adopsi layanan digital yang luas di Indonesia menjadikan negara ini sangat menarik bagi penjahat siber yang mencari keuntungan finansial.

Baca Juga: Mengapa Draf RUU Keamanan Siber Belum Dibuka? DPR Beri Penjelasan

Chee mencatat bahwa penetrasi koneksi seluler di Indonesia mencapai 116% pada tahun 2025, yang berarti jumlah Jumlah koneksi seluler aktif melebihi jumlah penduduk negara tersebut. Hal ini mencerminkan ketergantungan negara yang besar pada teknologi seluler sekaligus memperluas area serangan yang tersedia bagi penjahat siber.

"Mengingat basis pengguna domestik yang sangat besar, membahayakan bahkan satu ponsel pintar saja berpotensi menghasilkan keuntungan finansial yang signifikan bagi penyerang," katanya.

Seiring dengan terus berkembangnya ancaman siber, organisasi harus memprioritaskan keamanan aplikasi sebagai keharusan bisnis strategis.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman