Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamenkomdigi Nezar Ungkap Empat Strategi Tutup Kesenjangan Kapabilitas AI di Indonesia

Wamenkomdigi Nezar Ungkap Empat Strategi Tutup Kesenjangan Kapabilitas AI di Indonesia Kredit Foto: Komdigi

Sebagai langkah pertama, Komdigi akan mendorong pemanfaatan AI di sektor pendidikan melalui pendekatan yang lebih terstruktur. AI diharapkan tidak lagi digunakan sebatas eksperimen individu, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang aman dan sesuai dengan usia peserta didik.

"Kita harus beralih dari eksperimentasi informal oleh siswa menuju adopsi kelembagaan yang terstruktur, aman dan sesuai dengan tahapan usia," ujarnya.

Langkah kedua difokuskan pada sektor kesehatan. Nezar mencontohkan penggunaan AI dalam proses penapisan tuberkulosis (TBC) yang dinilai mampu membantu tenaga kesehatan melakukan diagnosis awal lebih cepat, terutama di wilayah yang kekurangan dokter spesialis.

"AI sangat berguna untuk membantu kerja-kerja dokter di daerah terpencil," katanya.

Selanjutnya, pemerintah ingin memperluas pemanfaatan AI di sektor jasa keuangan. Teknologi yang selama ini dimanfaatkan perusahaan besar untuk mendeteksi penipuan, mengelola sumber daya manusia, hingga proses rekrutmen diharapkan juga dapat diterapkan di lembaga keuangan mikro.

"Kini saatnya memperluas instrumen ini ke lembaga-lembaga keuangan mikro yang melayani masyarakat di luar kota-kota besar," ujar Nezar.

Baca Juga: Wamenkomdigi Nezar: Humas Pemerintah Harus Kuasai Algoritma Media Sosial demi Jaga Kepercayaan Publik

Strategi keempat menyasar sektor pemerintahan. Menurutnya, penerapan AI di instansi pemerintah masih belum merata, padahal teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi birokrasi dan kualitas pelayanan publik.

"Aparatur sipil negara berhak mendapatkan hasil efisiensi yang sama seperti korporasi-korporasi besar yang telah menggunakan AI," katanya.

Di akhir pemaparannya, Nezar menegaskan AI seharusnya diposisikan sebagai alat yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Karena itu, peningkatan literasi AI perlu dibarengi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

"Pemerintah akan terus membangun ekosistem AI nasional yang inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. AI ini harus didudukkan sebagai tools, complementary, sebagai partner dalam bekerja," pungkasnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman