Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Organon Gagal Kantongi Restu Pemegang Saham untuk Go Private SCPI

Organon Gagal Kantongi Restu Pemegang Saham untuk Go Private SCPI Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rencana PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI) untuk menjadi perusahaan tertutup (go private) sekaligus menghapus pencatatan saham (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI) belum dapat berlanjut. Pasalnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 14 Juli 2026 gagal memenuhi kuorum sehingga seluruh agenda rapat, termasuk persetujuan aksi korporasi tersebut, tidak dapat diputuskan.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada BEI, tingkat kehadiran pemegang saham dalam RUPSLB hanya mencapai 1,374% dari seluruh saham dengan hak suara.

"Agenda rapat tidak dapat dibahas karena kuorum kehadiran tidak terpenuhi," tulis manajemen SCPI dalam keterbukaan informasi, Jakarta, Jumat (17/7/2026). 

Gagalnya RUPSLB membuat proses go private dan delisting yang telah dirancang perseroan tertunda hingga persetujuan pemegang saham dapat diperoleh melalui mekanisme yang berlaku.

Sebelumnya, SCPI mengusulkan perubahan status menjadi perusahaan tertutup dengan alasan saham perseroan telah lama tidak aktif diperdagangkan di pasar. Selain itu, tingkat partisipasi pemegang saham publik dalam RUPS selama tiga tahun terakhir juga dinilai sangat rendah.

Menurut manajemen, status sebagai perusahaan terbuka tidak lagi sejalan dengan kebutuhan bisnis perseroan karena perusahaan tidak lagi bergantung pada pendanaan dari pasar modal untuk mendukung operasional maupun ekspansi usaha.

Sebagai bagian dari proses go private, pemegang saham publik akan memperoleh kesempatan menjual sahamnya melalui skema Voluntary Tender Offer (VTO).

Aksi pembelian saham tersebut akan dilakukan oleh Organon LLC selaku pemegang saham pengendali yang saat ini menguasai sekitar 3,55 juta saham atau setara 98,8% kepemilikan SCPI.

Dalam penawaran tender sukarela itu, Organon LLC menetapkan harga Rp100.000 per saham. Nilai tersebut sekitar 212% lebih tinggi dibandingkan harga penutupan terakhir saham SCPI sebesar Rp32.063 per saham sebelum perdagangan sahamnya disuspensi pada 1 Februari 2023.

Penawaran tender akan dilaksanakan sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 54/POJK.04/2015.

Manajemen juga menegaskan pemegang saham publik yang memilih tidak menjual sahamnya tetap akan mempertahankan kepemilikannya apabila SCPI nantinya resmi menjadi perusahaan tertutup.

"Bagi pemegang saham yang memilih tidak mengikuti penawaran tender, kepemilikan sahamnya tetap akan berlaku meskipun SCPI nantinya berubah status menjadi perusahaan tertutup," ungkap manajemen.

Perseroan menjelaskan, rencana go private merupakan bagian dari restrukturisasi bisnis yang dilakukan Grup Merck secara global.

Sejak Merck mengakuisisi Schering-Plough pada 2009, grup tersebut terus melakukan penyesuaian struktur bisnis, termasuk pemisahan usaha (spin-off) yang berdampak pada struktur kepemilikan SCPI pada 2021.

Di tengah proses aksi korporasi tersebut, kinerja keuangan SCPI pada kuartal I-2026 masih mencatatkan pertumbuhan laba.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp86,24 miliar atau naik 6,14% dibandingkan Rp81,25 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba per saham dasar dan dilusian juga meningkat menjadi Rp23.957 dari Rp22.571.

Baca Juga: Saham AGAR Masuk Radar BEI usai Kenaikan Harga Tak Wajar

Baca Juga: BEI Suspensi Saham LUCY Mulai 17 Juli usai Anjlok 77,8% dalam Sebulan

Baca Juga: IHSG Dibayangi Koreksi, Berikut 6 Saham yang Patut Dipantau

Sementara itu, pendapatan bersih turun menjadi Rp863,8 miliar dari Rp886,3 miliar pada kuartal I-2025. Namun, penurunan beban pokok penjualan menjadi Rp748,84 miliar dari Rp769,43 miliar membuat laba kotor tercatat sebesar Rp114,96 miliar.

Hingga akhir Maret 2026, total ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp1,42 triliun dari Rp1,33 triliun pada akhir 2025. Pada saat yang sama, total liabilitas turun menjadi Rp817,06 miliar dari Rp945,25 miliar, sedangkan total aset tercatat Rp2,23 triliun dibandingkan Rp2,27 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri