Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026, FIFA Dituding Rusak Integritas Sepak Bola

Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026, FIFA Dituding Rusak Integritas Sepak Bola Kredit Foto: AFP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden UEFA Aleksander Ceferin memutuskan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap FIFA. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena dilakukan di tengah laga puncak antara Spanyol dan Argentina yang berlangsung di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat.

Absennya Ceferin bukan tanpa alasan. Sejumlah kebijakan FIFA sepanjang Piala Dunia 2026 disebut memicu ketegangan dengan UEFA hingga membuat hubungan kedua organisasi sepak bola tersebut semakin memanas.

Melansir The Times, Ceferin sebenarnya sempat menghadiri upacara pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko. Namun, ia memilih tidak datang pada partai final sebagai bentuk kekecewaan terhadap berbagai keputusan FIFA.

Salah satu pemicunya adalah polemik penangguhan kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. FIFA mengizinkan Balogun tampil pada babak 16 besar meski sebelumnya menerima kartu merah.

Keputusan itu menuai kontroversi setelah muncul laporan adanya intervensi dari Gedung Putih di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. FIFA membantah adanya campur tangan politik dan menegaskan keputusan tersebut berasal dari Komite Disiplin independen.

Meski demikian, UEFA tetap melayangkan kritik keras. Federasi sepak bola Eropa itu menilai FIFA telah melampaui batas dan mencederai integritas kompetisi internasional.

Ketegangan kedua organisasi juga dipicu persoalan lain selama turnamen berlangsung. UEFA menilai FIFA terlalu banyak mengubah aturan teknis pertandingan, termasuk penerapan hydration break yang membuat pertandingan seolah terbagi menjadi empat kuarter.

Menurut UEFA, kebijakan tersebut lebih mengutamakan kepentingan komersial karena membuka ruang iklan tambahan. Mereka juga menyoroti durasi jeda pertandingan final yang mencapai hampir 30 menit, jauh melampaui waktu istirahat normal selama 15 menit.

Selain itu, FIFA dikritik karena menerapkan sistem harga tiket dinamis yang membuat biaya menonton pertandingan melonjak drastis. UEFA mengambil sikap berbeda dengan memastikan harga tiket Euro 2028 tetap berada di kisaran 30 hingga 60 poundsterling tanpa skema kenaikan harga dinamis.

Baca Juga: Juara Piala Dunia 2026, Spanyol Gusur Argentina dari Takhta Ranking FIFA

Perbedaan pandangan juga terlihat dalam rencana penambahan peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara. Usulan yang didorong Presiden FIFA Gianni Infantino tersebut dikabarkan ditolak mentah-mentah oleh Ceferin.

Hubungan FIFA dan UEFA juga sempat memanas terkait kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Setelah wasit asal Somalia, Omar Artan, dilaporkan mengalami kendala memasuki AS, UEFA justru menunjuknya untuk memimpin laga Piala Super Eropa sebagai bentuk dukungan.

Di tengah polemik tersebut, Spanyol akhirnya keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres pada babak extra time. Gelar itu menjadi trofi Piala Dunia kedua dalam sejarah La Furia Roja setelah sukses pertama mereka pada edisi 2010.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama