Jenderal TNI Era Jokowi Disemprot: Saat Menjabat Bungkam, Begitu Ditendang Merasa Pahlawan
Kredit Foto: Instagram/Gatot Nurmantyo
Pernyataan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang kembali melontarkan kritik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo memantik reaksi keras.
Kali ini, mantan Komisaris PT Pelni Dede Budhyarto melayangkan sindiran pedas dengan mempertanyakan mengapa berbagai tudingan baru disampaikan setelah Gatot tak lagi menjabat sebagai Panglima TNI.
Dede bahkan menilai narasi yang dibangun Gatot lebih mencerminkan dendam pribadi dibandingkan kepedulian terhadap kepentingan bangsa. Kritik tersebut disampaikan Dede melalui akun X miliknya sebagai respons atas video Gatot di kanal YouTube Hersubeno Point.
"Gatot Nurmantyo lagi membual hebat soal “rencana jahat Jokowi”, “sabotase struktural”, menteri-menteri titipan, judi online, blackout, dll. Padahal yang paling kelihatan justru dendam pribadi yang sudah diidap sejak 2017," tulis Dede di akun X.
Baca Juga: Kenapa Setiap Masalah Dikaitkan dengan Jokowi? Gus Din: Dia Itu Magnet
Menurut Dede, perubahan sikap Gatot mulai terlihat setelah posisinya sebagai Panglima TNI digantikan oleh Hadi Tjahjanto sekitar empat bulan sebelum masa pensiunnya.
"Dulu dia Panglima TNI. Diganti Hadi Tjahjanto empat bulan sebelum pensiun. Setelah itu baru mulai heboh, bikin KAMI, kritik sana-sini, sekarang malah bilang Jokowi masih “mengendalikan” Prabowo dari belakang," ujarnya.
Ia pun melontarkan sindiran tajam terhadap Gatot yang dinilainya baru vokal setelah tidak lagi memiliki jabatan strategis.
"Lucu. Ketika masih menjabat diam-diam, begitu “ditendang” (istilahnya sendiri) baru merasa jadi pahlawan kebenaran," lanjut dia.
Dede mempertanyakan mengapa berbagai tuduhan mengenai dugaan "rencana jahat" pemerintahan Jokowi tidak pernah diungkap ketika Gatot masih memiliki kewenangan sebagai Panglima TNI.
"Kalau benar semua itu rencana jahat Jokowi, kenapa baru diungkap sekarang? Kenapa dulu tidak dibuka saat masih punya wewenang? Karena waktu itu masih nyaman di kursi. Begitu kursi dicopot, baru ingat integritas, baru ingat negara, baru ingat “sakit hati rakyat”," sentil Dede.
Ia juga menilai pola seperti itu bukan hal baru. Menurutnya, sejumlah tokoh yang tidak lagi berada dalam lingkaran kekuasaan kerap membangun narasi sebagai penyelamat bangsa.
"Ini BASI banget: jenderal yang merasa dikhianati, lalu mengubah rasa sakit hati pribadi jadi narasi “penyelamat bangsa”. Semua yg diganti Jokowi selalu punya versi heroiknya sendiri. Gatot hanya salah satu yang paling vokal," katanya.
Baca Juga: Kaesang Siap Nyaleg 2029, PSI Kirim Pesan Menohok: Kalau Kalah...
Tak berhenti di situ, Dede meminta agar kritik yang disampaikan disertai bukti konkret, bukan sekadar opini yang disampaikan melalui tayangan media sosial.
"Kalau mau dipercaya, bawa bukti konkret, bukan hanya cerita di YouTube Hersubeno Point yang durasinya 1 jam tanpa skip. Karena sejauh ini yang paling kuat terasa bukan data, melainkan rasa pahit karena sudah tidak lagi digandeng, pun oleh pemerintahan yg berkuasa saat ini," ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Dede kembali menegaskan bahwa seorang mantan Panglima TNI yang benar-benar mengutamakan kepentingan negara seharusnya tidak menunggu kehilangan jabatan untuk menyuarakan kritik.
"Mantan Panglima yg genuine fokus negara tidak perlu menunggu diganti dulu baru “bangkit”. Yang seperti itu namanya bukan kepekaan kebangsaan, namanya sakit hati yang dibungkus nasionalisme," pungkas Dede.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: