Terungkap 'Operasi' Amerika untuk Tutupi Jumlah Pasukannya yang Menjadi Korban Serangan Iran
Kredit Foto: Unsplash/Filip Andrejevic
Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan terkait dengan perangnya di Iran. Laporan terbaru mengungkap bahwa jumlah personel yang tewas ternyata lebih besar dari yang sebelumnya tercantum dalam data resmi dari Washington.
Laporan Associated Press (AP), Senin (27/7/2026) menyebut empat anggota militer negara tersebut yang gugur dalam konflik terbaru sempat tidak lagi tercantum dalam daftar resmi korban perang yang dipublikasikan oleh Amerika.
Baca Juga: Amerika Kehabisan Amunisi untuk Serang Iran? Kini Trump 'Perang' Lewat Gambar AI
Keempat prajurit tersebut diketahui sebelumnya masuk dalam sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS). Ia selama ini menjadi basis data utama militer negara itu untuk mencatat korban dalam operasi perang.
Namun, pekan lalu nama mereka bersama puluhan hingga ratusan korban luka tidak lagi muncul dalam daftar utama korban perang.
Sebagai gantinya, data tersebut dipindahkan ke kategori baru bertajuk "Overseas Operations" atau Operasi Luar Negeri. Dalam kategori tersebut, tercantum empat prajurit yang meninggal dunia beserta 207 personel yang mengalami luka-luka.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut belum dapat dipastikan apakah seluruh korban luka yang tercantum dalam kategori baru itu secara langsung merupakan akibat dari konflik melawan Iran.
Perubahan klasifikasi tersebut langsung memicu pertanyaan mengenai transparansi pemerintah dalam menyampaikan dampak sebenarnya dari perang antara Iran dan Amerika.
Sorotan semakin menguat karena publik menilai pemindahan data tersebut membuat jumlah korban perang terlihat lebih kecil dibandingkan kondisi sebenarnya.
Juru Bicara Pentagon Joel Valdez sendiri membantah adanya upaya untuk menyembunyikan jumlah korban. Menurutnya, perubahan data terjadi akibat persoalan teknis dalam sistem pencatatan.
"Pengurangan angka korban yang dipublikasikan terjadi karena adanya anomali dan gangguan data sementara yang akan segera diperbaiki," kata Valdez.
Meski demikian, penjelasan Pentagon belum sepenuhnya meredakan kritik yang muncul. Laporan menyoroti bahwa perubahan kategori korban terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap keterbukaan informasi selama konflik kembali memanas.
Amerika dalam beberapa hari terakhir dinilai semakin membatasi informasi mengenai perkembangan operasi yang mereka lakukan di Iran.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat diketahui sudah tidak lagi menggelar konferensi pers resmi mengenai perang sejak awal Mei. Selain itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga disebut menghentikan praktik rutin menyampaikan laporan korban kepada para jurnalis.
Kondisi tersebut membuat proses verifikasi mengenai jumlah korban menjadi semakin sulit dilakukan secara independen. Perubahan sistem pelaporan itu pun memunculkan spekulasi bahwa angka korban perang sebenarnya bisa lebih besar daripada yang selama ini diketahui publik.
Baca Juga: Gunung Pickaxe Iran Akan Jadi Mimpi Buruk Donald Trump: Amerika Hanya Punya 'Operasi Bunuh Diri'
Hingga kini Pentagon belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan empat prajurit tersebut dipindahkan dari daftar utama korban perang ke kategori "Overseas Operations", termasuk apakah perubahan itu bersifat administratif atau berkaitan dengan kebijakan baru dalam pelaporan korban militer.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: