Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gunung Pickaxe Iran Akan Jadi Mimpi Buruk Donald Trump: Amerika Hanya Punya 'Operasi Bunuh Diri'

Gunung Pickaxe Iran Akan Jadi Mimpi Buruk Donald Trump: Amerika Hanya Punya 'Operasi Bunuh Diri' Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rencana Amerika Serikat (AS) untuk menyerang fasilitas nuklir tak akan berjalan mulus, mengingat risiko militer yang sangat besar yang dimiliki oleh Iran di Pegunungan Pickaxe. Operasi semacam itu hanya akan berubah menjadi misi bunuh diri.

Mantan Kepala Stasiun Badan Intelijen Amerika Serikat, Dan Hoffman memperingatkan bahwa operasi semacam itu dapat berubah menjadi misi yang sangat berbahaya bagi pasukan Amerika.

Baca Juga: Di Balik Penyerahan Kasus Eks Jampidsus Febrie ke Kejaksaan: Polisi Jadi Bulan-bulanan...

Hoffman menilai, berbeda dengan operasi militer yang mengandalkan faktor kejutan, setiap langkah untuk menyerang fasilitas nuklir bawah tanah itu hampir dipastikan sudah diperkirakan oleh Teheran.

Akibatnya, Amerika harus menghadapi sistem pertahanan yang telah disiapkan secara khusus untuk menggagalkan serangan terhadap lokasi strategis tersebut.

"Tidak ada unsur kejutan di sini. Iran akan tahu kita datang, dan kemungkinan mereka sudah memiliki rencana untuk mempertahankan lokasi itu, termasuk dengan bahan peledak yang dipasang sebagai jebakan serta berbagai sistem pertahanan lainnya," ujar Hoffman, dikutip Senin (27/7/2026).

Pernyataan tersebut memperlihatkan besarnya tantangan yang akan dihadapi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Diketahui dalam beberapa waktu terakhir, ia tengah menimbang untuk melakukan operasi militer langsung terhadap fasilitas nuklir yang dibangun jauh di dalam kawasan pegunungan dari Iran.

Menurut Hoffman, keputusan militer apa pun akan sangat bergantung pada kualitas intelijen mengenai lokasi sentrifugal nuklir, persediaan uranium yang telah diperkaya hingga keberadaan para ilmuwan yang terlibat dalam program nuklir dari Iran.

Ia menjelaskan, salah satu pilihan adalah melanjutkan serangan udara terhadap target-target strategis Iran. Opsi lainnya adalah menggelar operasi darat yang jauh lebih kompleks.

Namun, operasi darat bukan perkara sederhana. Amerika harus lebih dahulu menguasai koridor udara agar pasukan dapat masuk dengan aman, sekaligus membangun perimeter pertahanan untuk melindungi pasukan selama operasi berlangsung.

Menurut Hoffman, baik serangan udara maupun operasi darat sama-sama mengandung risiko yang sangat tinggi. Ia mengingatkan bahwa musuh hingga kini masih memiliki kemampuan militer yang signifikan, termasuk rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang tersebar di berbagai lokasi.

"Kedua pendekatan itu sangat berisiko," kata Hoffman.

Baca Juga: Serukan 'Balas Dendam', Masjid di Palestina Dibakar Saat Israel Gencarkan Operasi di Tepi Barat

Ia menambahkan bahwa kemampuan musuh mempertahankan fasilitas strategisnya menjadi salah satu faktor utama yang membuat setiap operasi militer berpotensi menimbulkan konsekuensi besar, baik dari sisi korban maupun eskalasi konflik regional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar