Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengamat Studi Internasional sebut 'Londo Ireng' itu Orang yang Bekerja Sama dengan Amerika Serikat

Pengamat Studi Internasional sebut 'Londo Ireng' itu Orang yang Bekerja Sama dengan Amerika Serikat Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat studi kawasan dan neokolonialisme, Dina Sulaeman, memberikan penjelasan mengenai istilah "Londo Ireng" yang sempat diucapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Istilah tersebut merujuk pada kaum pribumi yang dimanfaatkan oleh penjajah Belanda untuk melanggengkan agenda kolonialisme di masa lampau.

Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) itu menjelaskan, dalam konteks modern saat ini, praktik tersebut telah bergeser ke era neo-kolonialisme dan neo-imperialisme (nekolim). Kekuatan besar dunia atau Barat tidak lagi menjajah secara langsung, melainkan melalui cengkeraman ekonomi, modal, hingga intervensi politik serta kebudayaan.

Menurut Dina, dalam praktiknya, nekolim sering kali melibatkan berbagai elemen seperti media, akademisi, jurnalis, hingga pengamat. Ia mencontohkan solusi ekonomi ketika negara mengalami kesulitan, di mana pakar berhaluan neoliberal kerap mengarahkan untuk berutang kepada lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

"Padahal, utang ke WB dan IMF itu sebenarnya adalah penjajahan modern. Kekayaan alam kita disedot untuk bayar utang yang seolah tak habis-habis. Tapi fakta ini belum tentu terungkap di media atau oleh pengamat yang masuk TV," ujar Dina.

Lebih lanjut, Dina menegaskan bahwa kekuatan nekolim global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel tidak akan bisa berjalan tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak lokal atau "Londo Ireng" di berbagai negara.

"Jadi, kalau mau bicara soal Londo Ireng, identifikasi dulu: siapa sih yang menjajah dan siapa yang dijajah? Apa agenda si penjajah?

Di level global, sudah jelas, Barat (dipimpin AS) dan Israel adalah dedengkot kubu nekolim.  AS mengebomi negara-negara di dunia yang ga mau nurut, termasuk Iran. Israel, juga melakukannya ke Palestina dan Lebanon dan Suriah. 

Tapi, AS dan Israel tidak bisa melakukan nekolim JIKA TIDAK DIBANTU oleh para "Londo Ireng" dari berbagai penjuru dunia. Bantuan itu, antara lain dengan membeli produk industri  militer (senjata, drone, alat intel, dll) AS-Israel. Dengan memberikan konsesi pengelolaan kekayaan alam kepada AS-Israel (atau anak-cucu perusahaan yang terkait dengannya)," kata Dina.

Bantuan tersebut dapat berupa pembelian produk industri militer, pemberian konsesi pengelolaan sumber daya alam, hingga pembentukan narasi pembelaan di ruang publik.

Ia berharap masyarakat dapat lebih jeli dalam mengidentifikasi pihak-pihak yang berada di balik berbagai kepentingan global tersebut agar tidak terseret menjadi bagian dari "Londo Ireng" di era modern.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat