Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hilirisasi Batu Bara Jalan Lambat, Anak Buah Rosan Ungkap Penyebabnya

Hilirisasi Batu Bara Jalan Lambat, Anak Buah Rosan Ungkap Penyebabnya Kredit Foto: PT Bukit Asam Tbk
Warta Ekonomi, Jakarta -

Giat hilirisasi batu bara di dalam negeri disebut tidak secemerlang hilirisasi di sektor mineral lain. Nilai tambah yang tidak signifikan layaknya nikel dan bauksit menjadi pemicu enggannya para investor untuk masuk meramaikan agenda penciptaan nilai tambah komoditas tersebut.

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rizwan Aryadi Ramadhan, mengatakan pemerintah sebenarnya telah menyusun roadmap hilirisasi untuk batu bara. Namun, modal besar yang dikeluarkan untuk hilirisasi batu bara dinilai belum berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh.

"Tapi kalau dilihat nilai tambah, memang untuk turunan batu bara ini nilai tambahnya tidak terlalu besar gitu ya, dibandingkan dengan komoditas lainnya di mineral seperti nikel atau mungkin bauksit," ungkapnya dalam penandatanganan FEED dan EPC hilirisasi batu bara menjadi metanol yang dijalankan oleh Bumi Etam Chemical (BEC), Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Rizwan mencontohkan, proyek yang dijalankan oleh BEC di Kalimantan Timur dengan mengolah 7,7 juta ton batu bara per tahun menjadi metanol dengan kapasitas produksi 2 juta ton per tahun membutuhkan nilai investasi sebesar US$2,3 miliar. Besarnya investasi tersebut, kata dia, menghasilkan nilai tambah yang tidak lebih dari 10 kali lipat.

"Jadi dengan nilai investasi seperti tadi kan 2,3 miliar US Dollar, tapi nilai tambahnya nggak terlalu besar, kayaknya apa... effort-nya terlalu besar gitu dibandingkan dengan profit yang mungkin akan didapatkan," tambahnya.

Oleh sebab itu, pemerintah kini terus mendorong kolaborasi untuk menemukan teknologi terbaik agar capital expenditure (capex) yang dikeluarkan ke depan untuk hilirisasi sektor ini menjadi lebih menarik.

Baca Juga: Penjualan Batu Bara PTBA Tembus 21,10 Juta Ton pada Semester I 2026

Baca Juga: Purbaya Sebut Penerimaan Bea Cukai Bisa Lebih Tinggi Jika Ada Bea Keluar Batu Bara

Sebagai gambaran, hilirisasi metanol yang dijalankan BEC memiliki tingkat kepastian lebih tinggi dibandingkan dengan hilirisasi batu bara lainnya. BEC melaporkan bahwa perusahaan telah memiliki komitmen penyerapan produk metanol yang akan dihasilkan.

Namun, posisi kepastian serapan produk layaknya BEC tidak terjadi di hilirisasi batu bara lain di tanah air.

"Makanya mungkin ini (Proyek BEC) udah ketemu teknologi yang bisa lebih efisien dan lebih murah dan apa... demand-nya udah dapat yang bisa membeli produk yang akan dihasilkan jadi bisa ketemu skala ekonominya itu," jelas dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra